5 Mitos tentang Strategi Bisnis

mitos
sumber: curbed

Di dunia ini, selalu  ada kebohongan biasa, kebohongan besar, dan satu lagi mitos. Sayangnya, mitos merupakan yang terburuk di antara ketiganya. Terlebih di masa post truth  saat ini, orang cenderung lebih percaya perasaan benar dibanding kebenaran itu sendiri.

Kondisi ini semakin diperparah dengan masifnya penyebaran berbagai informasi di media sosial , di mana ketika kita mendengar informasi (entah jelas atau tidak sumbernya), maka kita cenderung berpikir tendensius.

Itulah mengapa para politisi dan kaum propagandis kerap menyodorkan informasi (mungkin tidak bohong, tapi cenderung mengarah “framing”) demi membangun narasi sesuai tujuan utamanya. Terkecuali  bagi orang cerdas, segala informasi bohong bisa dipatahkan kala  mereka mampu melihat sendiri kenyataannya di lapangan. Namun, sebuah mitos agaknya berbeda, karena mitos lebih sebagai jebakan “halus”, yang membuat sebagian kalangan (cerdas) pun bisa ikut meyakini kebenarannya.

Sebuah mitos biasanya didasarkan pada informasi yang setengah benar (masuk akal), dan tidak secara langsung menggiring seseorang  pada kesesatan. Di tengah perjalanan, maka kita akan sadar dengan sendirinya bahwa mungkin saja selama ini kita meyakini hal keliru. Hingga akhirnya, kita mengalami sendiri risiko terburuknya.

Kita memang tak bisa menghindari, bahwa mitos akan selalu mewarnai sendi kehidupan umat manusia, termasuk juga soal strategic thinking (cara kerja/berpikir strategis). Berikut adalah beberapa mitos terkait strategi yang mungkin kerap kita dengar selama meniti karir atau membangun bisnis:

Mitos 1: Strategi adalah  jangka panjang

Mengapa masuk akal?

Di beberapa industri, dasar kompetisi bisa saja tidak mengalami perubahan  berdekade lamanya. Para pemimpin yang patuh terhadap strategi yang dibuat baik kala bisnis itu baik atau tidak, tanpa mengacuhkan gangguan di sekitar dianggap berkinerja baik.

Mengapa itu salah?

Memikirkan strategi merupakan komitmen jangka panjang yang dapat membutakan  seseorang tentang kebutuhannya. Strategi bukan tentang jangka pendek atau panjang, tapi tentang fundamental bagaimana bisnis itu bekerja. Sumbernya adalah kreasi value, basis kompetisi, dan struktur biaya untuk menyampaikan nilai bisnis tersebut. Untuk menjalankan strategi yang baik, kita tidak perlu memperlama waktu pemikiran, tapi kaji kedalamannya. Strategi adalah tentang apa yang kita lakukan saat ini, untuk membentuk masa depan.

 

Mitos 2 : Para inovator mengubah strategi sepanjang waktu

Mengapa masuk akal?

Kalau kita melihat perusahaan internet raksasa, seperti Amazon, Google, dan Facebook, mereka memang terlihat kerap mengubah strategi, lantaran mereka punya kas begitu banyak untuk melakukan banyak hal. Misalnya saja, inovasi, atau  membuat produk dan jasa baru tiap tahun. Inovasi kerap disamakan dengan perubahan strategi arah, dan kadang kerap memicu perubahan itu sendiri.

Mengapa itu salah?

Dalam kasus Amazon, atau perusahaan raksasa teknologi lainnya, sebagian besar produk dan jasa baru inovatif tersebut merefleksikan strategi yang satu dan konsisten. Pendiri Boston Group Consulting (BCG), Bruce Henderson mengamati bahwa di banyak bisnis, biaya berkurang dengan memprediksi jumlah setiap volume berlipat kumulatif. Implikasinya perusahaan bisa mengorbankan margin saat ini demi mendapat ceruk, memimpin pasar, kemudian menuai untung. Bagi platform bisnis e commerce saat ini, kredonya yang dikenal “Beri dan pengguna bertambah”.

Mitos 3: Keunggulan kompetitif telah mati

Mengapa masuk akal?

Pastinya, kita sudah tak asing dengan istilah “competitive advantage”. Ada temuan beredar, bahwa perode unggul hanya bisa bertahan dalam jangka pendek, di mana pada akhirnya cukup sulit untuk bertahan. Hal ini berimplikasi pada pintu masuk yang lebih tipis dan mudah dimasuki pesaing atau pemain baru.

Mengapa itu salah?

Informasi yang menyatakan competitive advantage telah mati itu sebetulnya berlebihan. Keunggulan kompetitif  Amazon, Google, Apple, dan Microsoft sendiri begitu masif dan tak mudah bagi pesaing untuk mengambil ceruk pasar mereka. Maka, yang betul adalah keunggulan kompetitif tidak mati, dan setiap perusahaan perlu mengandalkan  keunggulan beragam dibanding hanya bergantung pada satu aspek saja.

Mitos 4: Kamu tak perlu strategi, kamu hanya perlu gesit

Mengapa masuk akal?

Perusahaan start up kini mungkin terlihat bermain gesit dan seperti tak punya perencanaan apa pun.

Mengapa itu salah?

Kecepatan dan kegesitan bukan strategi, namun kapabilitas yang berdampak pada keuntungan operasional, namun tidak secara permanen memengaruhi keunggulan perusahaan. Tidak adanya rencana, bukan berarti start up tidak punya strategi. Strategi bukan rencana, tapi kerangka kerja pengambilan keputusan berdasarkan prinsip-prinsip yang bisa diterapkan di tengah situasi berkembang. Start up sukses rata-rata berpikir keras tentang fundamental, mempertanyakan dan menguji asumsi dasar. Jika mereka tak menjalankan strategi, tentu saja akan berakhir pada kematian.

Mitos 5: Kamu butuh strategi digital

Mengapa masuk akal?

Teknologi digital pada dasarnya merupakan cara untuk mengumpulkan, menyimpan, dan memanfaatkan informasi. Seiring berjalannya waktu, teknologi digital semakin mampu menawarkan hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Peluang berbisnis di dunia maya makin terbuka lebar, yang kemudian melahirkan sebuah konsep “digital strategy”.

Apa salahnya?

Perusahaan itu ibarat organisme,. Jika kita berupaya mengoptimasi satu divisi, maka kita bisa menghancurkan keseluruhannya, lantaran satu divisi hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Jadi, jangan pernah bayangkan kamu mengembangkan strategi digital tapi melupakan soal keuangan, HR, dan lainnya.

==

Dirangkum dari tulisan Stephen Bungay is a Director of the Ashridge Strategic Management Centre in London. He is the author of The Art of Action: How Leaders Close the Gaps Between Plans, Actions and Results/HBR

Leave a Reply

Your email address will not be published.