Tinggal Setahun di Kampung Kumuh, Apa Pesan Roanne Van Voorst?

Tempat Terbaik di Dunia

Tanpa pikir panjang, saya langsung memutuskan membeli buku ini setelah melihat salah satu postingan yang berseliweran di lini masa media sosial. “Tempat Terbaik di Dunia” itulah judul buku dalam bentuk etnografi yang ditulis oleh seorang antropolog Roanne Van Voorst yang tengah melakukan penelitian untuk disertasi-nya di sebuah universitas Belanda.

Roanne menghabiskan waktu selama kurang lebih satu tahun di pemukiman kumuh bantaran kali Ciliwung, Jakarta untuk meneliti perilaku manusia merespons bencana banjir. Tentu saja, di sana ia tinggal di sebuah rumah kontrakan berukuran kamar sempit  sekitar 20 meter persegi dengan dinding kayu dan atap dari lempengan asbes. Dinding luar dilapisi semen tebal, sementara di bagian dalam ada lubang di tanah dengan kloset duduk dari keramik di atasnya. Separuh lantai bahkan masih berupa tanah, dan sisanya sudah dilapisi ubin.

Saya memang sudah lama tidak membaca buku etnografi, terakhir kali saat masih kuliah. Itupun membahas tentang kawasan di Bali yang tidak saya kenal-kenal amat, dan saya hanya bisa menyelesaikan separuh halaman saja 😀  Makanya, saya penasaran dengan Roanne yang rela menghabiskan waktu penelitian di sebuah pemukiman kumuh Jakarta, di mana para peneliti lokal jarang mengeksplor lebih dalam.

Pengalaman Roanne menceritakan pergulatan warga pemukiman kumuh bantaran kali menghadapi derita dan cobaan, nyatanya mampu mematahkan prasangka negatif para pejabat atau bahkan sebagian besar masyarakat kelas menengah atas Indonesia yang cenderung melabeli penghuni kampung kumuh sebagai kriminal dan pemalas.

Di dalam buku ini, dibahas berbagai isu keseharian masyarakat kampung, yang sebetulnya bukan fenomena baru-baru amat bagi saya. Contohnya, penggunaan listrik secara ilegal, bank keliling yang menetapkan bunga pinjaman hingga 80 persen, pengalaman masyarakat kampung yang ditolak rumah sakit, pergaulan bebas, sampai oknum pegawai pemerintah yang doyan meminta “upeti”.

Tapi, ada beberapa aspek di buku ini yang punya kesan tersendiri bagi saya pribadi. Misalnya, perjuangan warga mengumpulkan uang demi memiliki sebuah alat semacam “walkie talkie” guna memantau banjir yang siap menerjang kapan saja, trik menghadapi penggusuran, hingga pengetahuan lokal nan turun temurun tentang khasiat buah dan rempah alami untuk menaikkan libido wanita.

Lebih seru lagi, saat sampai pada bab bagaimana seorang pengamen jalanan punya cita-cita untuk membangun bisnis fitnes dan spa di kampung itu, yang selama ini hanya dinikmati kaum berduit. Semuanya dikemas dengan bahasa sederhana nan apik yang kadang mengundang gelak tawa sekaligus haru.

Secara tak langsung, buku Roanne mampu membawa kekangenan atas pengalaman turlap  kelompok yang pernah saya lakukan saat kuliah dulu untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar dunia kita. Misalnya, melihat sistem non formil yang diberlakukan para preman di terminal bis dan angkutan umum, atau mendatangi sebuah pemukiman di daerah Jakarta Pusat di mana warganya sudah sangat tersadarkan dengan sistem pengelolaan sampah yang baik.

Seperti yang tercantum dalam ringkasan di bagian belakang buku ini, Roanne berhasil membawa imej berbeda bagi penghuni kampung kumuh di tengah tekanan hidup yang keras, namun pantang menyerah. Kini, saya paham apa yang dikemukakan Annie Braddock (Scarlett Johansson) dalam film “The Nanny’s Diaries” (2007):

“ There’s a common belief among anthropologist that you must immerse yourself in an unfamiliar world in order to truly understand your own”

 

Etnografi dan konteks masa kini

etnografi
sumber: spire research & consulting

Sebagai ilmu yang lahir sejak masa kolonialisme, antropologi memang lebih dikenal sebagai disiplin yang banyak mengkaji masyarakat terasing atau terpinggirkan. Penelitian pun banyak dilakukan oleh orang-orang Barat demi kepentingan imperialisme itu sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, antropologi juga banyak diperbantukan untuk perkembangan keilmuan lain. Misalnya dalam studi pembangunan, kajian antropologi juga bisa menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan terkait upaya pengentasan kemiskinan atau perbaikan lingkungan serta dampak bagi masyarakat lokal.

Tak cuma itu, bahkan sejak tahun 1940-an, antropologi lewat metode penelitian andalannya etnografi dan beberapa ilmu terkait perilaku lainnya juga kerap dimanfaatkan advertising agency di Amerika Serikat untuk kepentingan riset pasar banyak brand besar, seperti Chrysler dan Exxon. Hal ini juga pernah saya bahas dalam Studi Etnografi: Riset ala Antropolog untuk Pemasaran

Di Indonesia, mempelajari antropologi korporat mungkin masih terdengar asing. Dulu, di masa kuliah peminatan bidang ini memang ada, tetapi tidak banyak mahasiswa yang mengambil.  Selain, karena ilmu ini lebih lekat dengan kehidupan sosial dan masyarakat, juga mungkin karena tidak banyak dosen yang ahli di ranah korporasi dan organisasi.  Saya tidak tahu perkembangannya sekarang.

Dalam konteks organisasi, etnografi tak hanya sekedar mampu menggali motivasi terdalam dari target market-nya, lalu dirancangkan strategi yang cocok, tapi juga membantu perusahaan untuk meningkatkan omset penjualan. Di era hypercompetition ini, rasanya hampir tidak ada profesi yang tidak butuh keterampilan menjual. Guru les, fotografer, blogger, musisi, penulis, host/presenter, lawyer, politisi, chef, coba sebut apa lagi? Apakah mereka tidak punya strategi untuk menawarkan jasa?

“The master of salesman is the master of others, because he is the master of himself” –Napoleon Hill-

Menjual sebagai kemampuan dasar bertahan hidup ini artinya mampu meyakinkan dan mengajak orang lain untuk mengikuti ide kita. Di sinilah bagi saya pentingnya peran etnografi, “memasukkan rasa” , mendengar dan memahami pengalaman dan keinginan orang lain. Tak cuma itu, bersikap netral, tenang, dan membangun “genuine care” adalah karakter yang idealnya dikembangkan seorang salesperson jika ingin sekelas Joe Girard atau bahkan Steve Jobs.

Melalui riset etnografi atau netnografi, juga akan menghindarkan kita dari asumsi-asumsi belaka yang membuat kita cenderung berpikir seolah tahu segala hal, padahal sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Sekali lagi, terima kasih Roanne sudah mengingatkan pesan penting bagaimana belajar mendengar dan memahami dunia yang tak kita kenal di tengah hiruk pikuk beragam stigma yang kerap kita dengar 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.