“Seperti Sungai yang Mengalir” by Paulo Coelho (Part1)

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun
paulo coelho
Dua buku koleksi The Alchemist dan Seperti Sungai yang Mengalir

 

Bagi anda penggemar karya Paulo Coelho pastinya sudah paham sekali dengan berbagai kisah hidup menggugah hati yang disajikan dalam setiap bab-nya. Karya Coelho yang paling fenomenal “The Alchemist (Sang Alkemis)” pun berhasil menjadi salah satu buku terlaris dunia. Kisah inspiratif ini dinilai bisa mengubah hidup banyak orang lewat si tokoh utama Santiago yang rela melakukan apa pun demi impian-nya.

Sama halnya dengan karya Coelho yang lain, “Seperti Sungai yang Mengalir” juga menyajikan berbagai kisah tentang pencarian makna mengejar mimpi, kehidupan dan kematian, takdir dan pilihan, atau pun cinta yang hilang dan ditemukan.

Membaca bab demi bab buku ini pun, kita akan diingatkan kembali bagaimana memandang berbagai tantangan dalam hidup yang dibalut dalam kisah yang terkadang humoris, kadang serius, tapi selalu punya makna dalam.

Meski sudah sekian tahun lalu saya membaca buku ini, ini adalah salah satu kisah kutipan bab favorit saya yang cukup mengena untuk lebih menghargai hidup ini.

Kisah Sebatang Pensil

Terkisah seorang anak lelaki yang bertanya pada neneknya, mengenai isi surat yang sedang ditulis sang nenek.

Kemudian, si nenek pun menjawab bahwa ada yang lebih penting dibanding apa isi surat tersebut, yakni pensil yang digunakannya itu. “Kelak saat kamu dewasa, kamu harus seperti pensil ini,”katanya.

Si anak lelaki itu merasa heran, dia amat-amati pensil tersebut dan terlihat tak ada yang istimewa. “Tapi pensil itu sama saja dengan pensil-pensil lain yang pernah kulihat,”ujarnya.

Sang nenek menjawab,”Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya”. Ada 5 pokok penting, dan jika kamu berhasil menerapkannya, maka kamu akan bahagia menjalani hidup.

Pertama, kamu sanggup melakukan hal-hal besar, tapi jangan lupa bahwa ada tangan yang senantiasa membimbing tiap langkah-mu. Dia-lah sang Maha penguasa alam yang selalu membimbing kita sesuai kehendak-Nya.

Kedua, sesekali nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini pun akan merasa kesakitan sedikit, tapi sesudahnya dia akan jauh lebih tajam. Begitu pula dengan kamu, sanggupilah menghadapi beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab itulah yang akan menjadikanmu lebih kuat.

Ketiga, pensil ini juga tidak keberatan jika kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan yang kita buat. Ini artinya, tak apa jika kita berupaya memperbaiki kekeliruan yang telah kita lakukan.

Keempat, kayu bukanlah elemen paling penting dari pensil ini, melainkan bahan grafit di dalamnya. Begitu pula dengan kamu, apa yang ada dalam dirimu jauh penting.

Kelima, setelah dihapus, pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pun dengan dirimu, apa yang kamu lakukan dalam hidup ini pasti akan meninggalkan bekas, maka sadarilah setiap tindakan yang akan kamu lakukan.

 

Bersambung…….

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.