Selamat Jalan Si Malang Gajah “Yongki”

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

 

gajah yongki
Si Malang Gajah “Yongki” saat tampil dalam video klip single Tulus berjudul “Gajah”

Kematian “Yongki” Sang Gajah patroli yang biasa menengahi konflik antara penduduk dan gajah-gajah liar di kawasan perkampungan Pemerihan, Provinsi Lampung sangat mengejutkan banyak pihak. Ia ditemukan mati dibunuh dengan kondisi gading yang hilang. Si Malang Gajah “Yongki” ini hidup di Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBS)-Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur.

Memang bukan hal baru, jika satu per satu gajah di kawasan Sumatera dihabisi demi kepentingan ekonomi segelintir orang jahat dan tak bertanggung jawab. Sedih sekali rasanya melihat foto-foto bangkai gajah di berbagai media yang ditemukan tewas mengenaskan, bahkan ada yang ditemukan tanpa kepala.

Berdasarkan informasi, Forum Komunikasi Gajah Indonesia (FKGI) kasus kematian gajah di wilayah Sumatera di antaranya disebabkan dua faktor utama, yakni perburan dan konflik dengan manusia. Orang-orang jahat tak punya hati dan pikiran itu memburu gajah untuk diambil gadingnya yang nilainya cukup tinggi di pasar gelap.

Meningginya konflik antara populasi gajah dan manusia dari hari ke hari tak lain juga karena disebabkan deforestasi. Rusaknya dan hilangnya habitat gajah disebabkan ulah manusia yang menjadikan kawasan tersebut tempat bermukim atau produksi. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan bagi kelestarian sub populasi gajah di kawasan tersebut.

Penelitian FKGI, menemukan, jika hanya 15 persen habitat gajah yang berstatus kawasan konservasi, 85 persen merupakan kawasan hutan lindung, hutan tanaman, perkebunan sawit, dan kawasan porduksi lainnya. MEMPRIHATINKAN!!!

Selama periode 2011-2014, sedikitnya 45 ekor gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) mati dibunuh akibat perburuan dan konfilk dengan manusia yang terjadi di kawasan Aceh, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Lampung.

 

Alam dan Manusia

oleh Kahlil Gibran

Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda

yang menangis meratapi kematian anaknya dan aku kemudian bertanya,

“Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?” Dan Sungai itu menjawab,

“Sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat manusia

merendahkan dan menyiakan diriku dan menjadikanku

minuman-minuman keras

dan mereka memperalatku bagai pembersih sampah, meracuni kemurnianku,

dan mengubah sifat-sifatku yang baik menjadi sifat-sifat buruk.”

Dan, aku mendengar burung-burung menangis, dan aku bertanya,

“Mengapa engkau menangis burung-burungku yang cantik?”

Dan, salah satu dari burung itu terbang mendekatiku, dan

Hinggap di hujung sebuah cabang pohon dan berkata,

“Anak-anak Adam akan segera datang di ladang ini dengan membawa

Senjata-senjata pembunuh dan menyerang kami

seolah-olah kami adalah musuhnya.

Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain,

sebab kami tidak tahu siapa di antara kami

yang bisa selamat dari kejahatan Manusia,”

Ajal memburu kami ke mana pun kami pergi.

Kini, matahari terbit dari balik puncak pegunungan, dan

Menyinari puncak-puncak pepohonan dengan rona mahkota.

Kupandangi keindahan ini dan aku bertanya kepada diriku sendiri,

“Mengapa manusia mesti menghancurkan

segala karya yang telah diciptakan oleh alam?”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.