Rencana Kampanye Media Sosial demi Menang Persaingan 2019

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun
media sosial
sumber: twitter.com/serenawilliams

Tahun ini bisa jadi merupakan masa-masa tersibuk bagi rakyat Indonesia. Bagaimana tidak dalam jangka waktu 4 bulan ke depan, kita bakal terus dibombardir dengan ragam gimmick kampanye capres-cawapres yang menguras energi.

Belum lagi pernyataan-pernyataan para calon legislatif/tim sukses yang seolah tak ingin kalah meramaikan kontestasi pilpres. Namun,  apakah komunikasi yang mereka lakukan di ragam kanal media termasuk voice atau noise?

Seperti halnya kontestasi politik, bagi sebuah brand yang ingin long lasting, kesuksesan dalam menjalankan kampanye di media sosial yang makin “noise” ini idealnya harus dibarengi dengan ide brilian serta taktik kampanye yang terencana agar menjadi “voice”.

Menyongsong tahun yang baru, algoritma platform media sosial tentu saja akan mengalami perubahan, misal dengan penambahan fitur-fitur baru untuk semakin menarik minat pengguna. Lalu, apa saja persiapan yang bisa dilakukan brand dan para pemasar tahun ini?

 

Biaya akuisisi per pelanggan yang bakal naik

media sosial
sumber: kevy

Salah satu tantangan terbesar media sosial bagi para pemasar adalah semakin sulitnya menggapai audiens hanya dengan konten organik. Hal ini terjadi lantaran platform media sosial, seperti Facebook atau Instagram ingin lebih mendorong banyak brand untuk beriklan. Tak heran, berdasarkan Social Spending Report dari Social Media Today, rata-rata pemasar menghabiskan sebagian besar anggarannya untuk iklan.

Tak terkecuali, tahun 2019 ini, para pemasar juga merencanakan lebih banyak anggaran untuk iklan. Semakin sesaknya persaingan, tentu saja akan berimbas pada kenaikan biaya akuisisi per pelanggan. Yup, biaya iklan digital semakin mahal. Jadi, pastikan anggaran cukup dan rencanakan target audiens se-spesifik mungkin 🙂

 

Go Live!

Meskipun, usia fitur Facebook live video baru seumur jagung, namun popularitasnya begitu cepat bertumbuh. Berdasarkan, kajian Livestream dan New York Magazine, terjadi peningkatan penonton video hingga 81 persen antara tahun 2015-2016. Bahkan, 80 persen konsumen memilih untuk menonton video live brand dibandingkan membaca blog mereka, dan sebanyak 82 persen juga memilih menonton video live dibandingkan postingan media sosial. Maka, penting bagi brand dan pemasar untuk menyiapkan lebih banyak konten live video di media sosial tahun ini.

 

Bereksperimen dengan IGTV

media sosial
sumber: socialmediaweek

Salah satu perkembangan signifikan di ranah media sosial sejak tahun lalu adalah pengenalan IGTV di Instagram. Fitur yang disebut-sebut ingin menyaingi popularitas Youtube ini memungkinkan para pengguna untuk membuat konten video dengan format lebih panjang dibanding di feed atau stories.

Dengan beragam eksperiman dan strategi, para konten kreator bisa mempelajari video dengan sistem episode di mana cenderung bisa lebih baik menarik penonton di IGTV. Lilly Singh, misalnya, telah menjalankan sebuah acara berita komedi 10 episode di IGTV bertajuk “Spice News” di mana ia berhasil menarik kurang lebih 434 ribu lebih per episode. Wah, ide yang brilian bukan?

Jadi, ada baiknya kita mulai pikirkan strategi untuk membuat lebih banyak lagi video berseri, agar penonton selalu penasaran menunggu cerita berikutnya.

 

 

Socialmediaweek

Leave a Reply

Your email address will not be published.