Oobah Butler, Pencipta Bisnis Fiktif yang Kebanjiran Pesanan

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Siapa yang menyangka jika sebuah bisnis restoran fiktif bisa menjadi rujukan nomor 1 se-kota London bedasarkan situs perjalanan dan gaya hidup TripAdvisor? Semua itu bermula dari seorang jurnalis bernama Oobah Butler yang memiliki ide gokil itu. Butler mengaku mendapati ide tersebut setelah ia diminta oleh seorang pemilik restoran untuk menulis review positif mengenai tempat mereka dan mendapat bayaran 10 dolar, padahal Butler sama sekali tidak pernah makan di sana.

Ia pun penasaran apakah situs Tripadvisor didominasi oleh review palsu. Makin banyak review positif yang didapat sebuah restoran, tentunya akan berpotensi menaikkan rating restoran tersebut. Akhirnya, terbersitlah ide untuk mendirikan restoran fiktif dan mengetes apakah  restoran “buatan” itu bisa benar-benar mencapai rating 1 sebagai rujukan terpopuler di TripAdvisor.

Halaman belakang rumah tempat tinggalnya di London Selatan pun disulap layaknya sebuah restoran bergaya natural. Sejak awal, Butler memang sudah mengonsep restoran fiktif itu dengan empat kata kunci, makan di luar (eat outside), aneh (weird), nyaman (homey), dan yang paling aneh adalah berdasarkan perjanjian saja (appointment only).

Butler memang tidak pernah menyebutkan alamat restoran tersebut, namun ia membuat situs web dan logo layaknya bisnis nyata. Siapa pun yang ingin makan di sana, diwajibkan menelpon dulu untuk reservasi.

Bulan April tahun lalu, bisnis restoran yang dinamakan The Shed of Dulwich memulai debutnya di ranking paling bawah 18.149 situs TripAdvisor. Tak cuma restorannya yang fiktif, ia  juga memalsukan foto makanan yang dipajang di situs itu.

Dengan bantuan kawannya seorang fotografer andal, ia pun menggunakan bahan-bahan, seperti tablet pemutih, sponge lukis, krim cukur, dan bahkan kakinya sendiri sebagai sajian The Shed, menggunakan nama menu yang berhubungan dengan suasana hati (mood).

bisnis
sumber: vice

Dari awalnya hanya menempati posisi rating paling buncit, Butler mendapat bantuan dari teman-temannya untuk menulis review yang  banyak sekaligus unik dari komputer berbeda, hingga mampu menempati posisi 10.000, perlahan naik menjadi rating 1.456 di TripAdvisor. Ketika itu, ponselnya terus berdering melayani permintaan calon pelanggan untuk reservasi. Butler pun selalu beralasan, jika restorannya selalu full booked hingga beberapa minggu ke depan.

“Hanya lewat perjanjian, tak ada petunjuk alamat, dan eksklusivitas secara umum atas tempatnya, kemudian banyak memikat orang,”kata Butler.

Pada akhir Agustus, empat bulan setelah debutnya, The Shed of Dulwich akhirnya mampu naik peringkat ke 156 di TripAdvsior sebagai restoran paling populer di London. Tetiba banyak hal-hal tak terduga terjadi. Pemasok potensial mulai menanyakan apakah bisa mengirim sampel gratis dan calon pelamar kerja pun mulai menanyakan lowongan.

Bahkan pemerintah kota setempat pernah menawarkan relokasi restoran itu ke pemukiman yang tengah berkembang. Tak cuma itu, sebuah perusahaan produksi menginginkan untuk meliput restorannya dengan video terbang.

Akhirnya, pada 1 November 2017 lalu, The Shed at Dulwich yang merupakan restoran fiktif, mendapat ranking pertama di salah satu kota terbesar dunia, London, berdasarkan situs internet yang paling dipercaya. Apa yang terjadi setelah itu?

Silahkan tonton video liputan Vice di bawah ini :

 

 

Paris Fashion Week

Pria bergaya kemayu ini pun beraksi kembali. Butler membawa sebuah label pakaian menengah yang tak terlalu dikenal naik level di ajang bergengsi Paris Fashion Week. Namun, kali itu ia kembali berpura-pura menjadi perancang busana label yang bernama Georgio Pervani tersebut. Lalu, bagaimana ia membuat para model top, blogger, dan social media influencer di ajang itu terobsesi dengan sebuah jeans berharga 20 dolar saja?

 

 

Hahahaha, sumpah gokil banget ini orang. Makan apa yah sehari-hari, bisa jadi super pede gitu ? 😀

Tentu, hikmah dari cerita ini adalah tidak ada mimpi yang terlalu mustahil dicapai, yang ada usaha yang belum maksimal wkwkwk….

Sumber: Vice/Forbes

Baca juga: Belajar dari Skandal Kebohongan Theranos, Perusahaan Bernilai 9 Miliar Dolar

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.