Mungkinkah Efektif Mengelola Tim Kerja Jarak Jauh?

WFH
sumber: pexels

Istilah Work From Home (WFH) mendadak populer dan menjadi trending topic ketika beberapa negara di dunia dilanda pandemi COVID-19. Selama ini, work from home memang lebih dikenal di kalangan para freelancer, start up yang menjunjung kebebasan dan fleksibilitas atau pebisnis online pemula. Sekarang, makin banyak perusahaan mapan turut memberlakukan kebijakan serupa bagi pekerjanya menyusul makin meluasnya kasus corona.

Meski, terdengar mengasyikkan dan hemat, nyatanya membangun disiplin dengan bekerja dari rumah tidak semudah bayangan. Salah-salah malah kita lebih banyak jadi kaum rebahan dibanding komitmen menyelesaikan tugas. Begitu pula, bagi para business owner yang sudah punya tim, mereka harus membuat do’s dan don’ts demi tercapainya misi.

Membangun dan mengelola tim jarak jauh tentunya bisa jadi tantangan sendiri. Lantaran tidak semua orang mampu bekerja efektif saat sendiri, maka diperlukan beberapa aturan yang mengikat layaknya bekerja tatap muka di kantor. Berikut beberapa tips praktis agar seluruh tim bisa bekerja efektif:

 

Tentukan jam kerja dan ceklist tugas harian

Karena kita punya kebebasan tanpa batas saat bekerja di rumah, tentu harus ditentukan sejak awal, jam kerja yang efektif dalam sehari. Pastikan kita disiplin terhadap waktu tersebut. Misalnya, kerja normal sehari 8 jam, mau bekerja dari subuh atau baru mulai sore, angka 8 jam setidaknya bisa dicapai.

Menulis to do list atau daftar tugas yang harus dilakukan dalam sehari juga sangat membantu kita untuk mengalokasikan waktu lebih efektif dan tidak terlena dengan keadaan. Para pimpinan bertugas untuk mengawasi hal tersebut.

Bangun komunikasi

Tidak seperti bekerja tatap muka di kantor, saat bekerja jarak jauh koordinasi jadi lebih terbatas. Para pekerja yang harus bekerja dari rumahnya, mungkin saja lebih sulit mengakses informasi, atau hubungan dengan pihak lain saat harus menyelesaikan tugas. Para staf tentunya masih perlu arahan lebih detil dari pimpinan. Penggunaan teknologi, seperti, skype, zoom atau conference call, serta perangkat lunak manajemen proyek, seperti Click up atau Slack tentunya akan sangat membantu untuk supervisi dan komunikasi lebih intens.

Mengelola ekspektasi

Seorang pimpinan wajib membantu timnya untuk memetakan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan, sekaligus menciptakan ekspektasi yang realistis atas kerja mereka. Sebelumnya, seluruh tim harus menyetujui lebih dulu aturan WFH, termasuk jam kerja, dokumen yang dibagikan, serta hasil yang diharapkan. Manajemen proyek dan workload (beban kerja) itu merupakan tulang punggung perusahaan remote.

Fokus pada hasil bukan aktivitas

Memang agak sulit untuk mengelola tiap aspek hasil kerja yang dilakukan tim jarak jauh. Apalagi, jika tim kita tersebar di banyak lokasi. Upayakan jangan hanya fokus pada aktivitas harian atau jam kerja saja, tapi fokuslah pada hasil dan ukur kemampuan tim. Contoh, tentukan berapa lama pengerjaan, kapan direview (tanggal dan jam). Pimpinan harus bisa membuat brief yang mudah dipahami, seperti X pekerjaan yang dilakukan, Y standar kualitas, dan Z batas waktu pekerjaan (deadline). Semakin detil, semakin baik.

====

Terlepas, dari ragam tantangan di atas, riset Gallup justru menunjukkan bahwa 53 persen karyawan merasa butuh memiliki keseimbangan hidup (work-life), dan 51 persen pekerja di AS akan berhenti bekerja untuk bisa bekerja dengan waktu fleksibel. Gallup juga menemukan, bahwa jumlah pekerja jarak jauh semakin meningkat antara tahun 2012-2016. Begitu pula, semakin banyak industri yang memberlakukan kebijakan kerja jarak jauh. Kini, bekerja jarak jauh sudah bukan menjadi privilege lagi. Bahkan, Forbes melaporkan, jika WFH sudah menjadi standar operasi bagi setidaknya 50 persen warga AS.

 

Sumber: Inc/Gallup

Leave a Reply

Your email address will not be published.