Merekrut Orang “HEBAT” di Organisasi

organisasi
sumber: luiss guido carli

Pernahkah terpikir untuk bisa membajak orang-orang hebat dari perusahaan konsultan ternama atau perusahaan besar untuk mengurus usaha yang masih kecil ini?

Saya pun pernah terpikir demikian, setelah ada seorang “mentor”  yang merekrut salah seorang karyawan ex alumni McKinsey untuk mengurus perusahaan UKM-nya, sebuah situs e commerce fesyen dengan gaji 2 digit.

Sekilas tampak enak ya, aktivitas organisasi yang njelimet bisa dibantu sama orang “hebat” berpengalaman. Namun yang jadi pertanyaan, apakah orang yang kita anggap hebat itu benar-benar bisa berdampak signifikan bagi tercapainya tujuan organisasi?

Akhirnya saya mendapatkan jawabannya, setelah muncul pertanyaan yang sama dari sebuah grup chat. Jawaban ini berasal dari Kang Rendy Saputra yang sudah sekian tahun wara wiri melatih dan mengadakan mentoring untuk UKM.

Berikut ini adalah beberapa analisa by Rendy Saputra:

1. Kerja Organisasi, Bukan Kerja Personal

Seseorang bisa berprestasi itu karena kerja bersama, bukan kerja perseorangan. Jika ada yang merasa bahwa pencapaian hasil kerja itu adalah kerja individu, berarti ada kesalahan cara berfikir.

Karena prestasi adalah kerja bersama, maka gak ada yang namanya orang hebat. Yang ada adalah organisasi yang hebat. Sekumpulan orang yang secara harmoni bisa berkerja harmoni bersama.

Maka pertanyaannya, jika orang katanya hebat tadi kerja di tempat Anda, tempat Anda ini beres gak? Apakah organisasi bisnis Anda sudah fit untuk orang hebat?

Anda bawa Schumacher ke bisnis Anda, apakah bisnis Anda sudah sekelas Ferarri? Atau baru kelas Avanza 1500cc? Kasihan pembalapnya jadinya.

Maka pertanyaan nomor 1 ini perlu dijawab terlebih dahulu, apakah yakin orang hebat itu bisa berdampak?

2. Sistem Baik vs Sistem Buruk

Nyambung dari poin 1, beberapa orang hebat memang bisa mengeluarkan banyak kehebatannya karena sistem perusahaan yang sudah mapan.

Alur kerja sudah jelas, ruang lingkup area sudah jelas, peosedur antar bagian sudah terang benderang.

Di banyak perusahaan, prosedur dan sistem kerja ini masih amburadul. Maka tak heran jika banyak profesional yang katanya bersinar di perusahaan sebelumnya tiba-tiba meredup di perusahaan baru, karena kehilangan daya dukung ekosistem.

Maka kembali lagi, perusahaan Anda harus mengevaluasi diri secara mendasar. Apakah kualitas sistem perusahaan sudah siap untuk beliau, sebelum rekrut sana rekrut sini.

3. Otoritas Kuasa dan Anggaran

Merekrut orang hebat itu bisa saja berdampak baik, jika memang beliau memiliki otoritas atas kuasa dan anggaran yang memadai.

Terkait organisasi, beliau bisa bawa gerbong orang-orang yang beliau percaya. Jika pindahnya seorang profesional masih di bidang industri yang sama, biasanya bedol desa. Dan itu wajar.

Seorang leader harus memastikan tim nya mampu menjalankan apa yang jadi fikirannya.

Orang hebat di sebuah organisasi biasanya juga dibekali dengan alat tempur yang memadai. Budget perang yang cukup, hak untuk berkreasi atas koridor yang diberikan.

Beberapa pengusaha memperlakukan orang hebat sebagai pesuruh kasar yang diharapkan menjalankan apa maunya para majikan. Padahal inovasi dan kreativitas orang hebat tidak bisa optimal jika menggunakan manajemen tusuk hidung sapi.

 

Sumber: Grup WA ZidClub

 Ketik “Join Grup WA Audio” kirim WA 085220000122

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.