Memahami Unique Selling Proposition di Era Internet

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun
internet
sumber: watchpro

Unik bukan hanya sekedar beda, tapi satu-satunya. Menghadapi kompetisi yang kian ganas di berbagai industri terutama era internet, maka wajib hukumnya bagi para pengusaha untuk menentukan apa yang membuat mereka unik dibanding yang lain. Hal ini pula yang akhirnya membuat saya berpikir ulang, apa yang salah ketika terjadi stagnasi? Tak heran, banyak brand yang menghabiskan waktu hingga tahunan lamanya hanya untuk menyusun konsep termasuk value selling proposition di dalamnya.

Semakin banyak pilihan bagi konsumen tentu baik untuk mereka. Namun, jika mereka tidak segera memahami nilai yang ditawarkan oleh sebuah brand, maka siap-siap saja brand itu akan tenggelam dalam kerumunan. Istilah unique selling proposition (USP) memang telah lama dikenal dalam bidang pemasaran dan branding, bahkan menjadi salah satu aspek penting dalam Business Model Canvas.

Lalu, apa sebenarnya pengertian unique selling proposition? USP pada dasarnya merupakan pernyataan spesialisasi yang dipilih untuk membedakan antara produk atau brand yang kita punya dengan kompetitor di industri yang sama. Dengan menyusun konsep USP yang kuat, maka hal ini akan membantu para pemilik bisnis untuk fokus pada upaya penyampaian pesan komunikasi dan branding.

“It’s not necessarily what you sell has to be unique, but the message you choose to focus on that your competition doesn’t”

 

Apa yang membuat brand kita berbeda dibanding kompetitor?

Saya jamin, pertanyaan ini mungkin tidak akan terjawab dalam sehari :D.. Mungkin ada beberapa orang masih salah kaprah kalau brand itu sama dengan merk. No, brand bukan merk, slogan, atau logo, brand adalah nilai yang membangkitkan ikatan emosi.

USP biasanya memainkan apa yang jadi kekuatan sebuah brand bisnis sekaligus berharga di mata target audiens. Menjadi “unik” tidak serta merta menjadikan USP kuat. Maka, kita perlu membedakan lagi beberapa aspek di mana target audiens kita benar-benar peduli dan menginginkannya. Kalau tidak, pesan komunikasi yang disampaikan tidak akan efektif.

Maka, idealnya saat menyusun USP setidaknya mencakup beberapa pertimbangan berikut:

Tegas dan spesifik: Dengan mengambil posisi atau kategori spesifik, maka akan mendorong brand mampu berkompetisi sehat dan layak dikenang. Jangan terjebak dengan jargon-jargon umum, seperti “kami menjual produk berkualitas tinggi”, “harga terjangkau”, dan sejenisnya.

Fokus terhadap nilai konsumen: Konsep “Unik” menurut si empunya bisnis, tidak akan bekerja maksimal apabila tidak mampu merangkul kepentingan target audiensnya.

Lebih dari sekedar slogan: Slogan adalah tahap akhir yang berawal dari perwujudan nilai inti sebuah brand untuk menyampaikan pesan komunikasi agar mudah diingat di benak konsumen. Namun, USP tak hanya mencakup slogan, bisa juga terkait pengalaman menyeluruh yang ingin disampaikan kepada konsumen.

Apa yang bukan termasuk USP?

Pernah mendengar slogan “Delivery Happiness” sebuah perusahaan ritel sepatu online, Zappos? Yup, bisa dibilang Zappos menjadi salah satu pionir  e commerce yang melakukan serangkaian penawaran pemasaran spektakuler kala itu, seperti ongkir gratis, layanan konsumen 24/7, serta pengembalian produk hingga 30 hari.

Sayangnya, semua aspek di atas bukanlah sebuah USP. Kita bisa lihat sekarang, betapa mudahnya perusahaan e commerce membuat bahkan menyontek ragam layanan yang begitu memanjakan pelanggan bukan?

Pada dasarnya USP merupakan posisi yang diambil sebuah bisnis di pasaran yang terintegrasi dengan produk, brand story, misi perusahan, serta pengalaman mengagumkan bagi konsumen. Untuk lebih memahami lebih jauh USP, yuk kita perhatikan beberapa contoh USP product brand berikut:

Domino’s Pizza

internet
sumber: IB Times UK

“You get fresh, hot pizza delivered to your door in 30 minutes or less or it’s free”

 Posisi apa yang ingin ditonjolkan Domino’s Pizza ketika kamu membaca slogan di atas? Mungkin, slogan itu terlalu panjang dan kurang catchy, tapi Domino’s dinilai tetap memiliki USP yang kuat lewat garansi dan kejelasan posisinya. Jadi, Domino’s tidak pernah menjanjikan pizza yang lezat dan gurih, melainkan kecepatan pengiriman kepada pelanggan. Sayangnya, Domino’s sudah tidak menggunakan lagi slogan ini lantaran kerap menggiring pada kecelakaan kendaraan.

Rolex

internet
sumber: wyatt clarke & jones

“A Crown for every achievement”

Sejak pertama kali didirikan oleh Hans Wilsdorf dan Alfred Davis tahun 1903 silam, rasanya belum ada produsen jam tangan lainnya yang mampu menandingi popularitas dan diakui sebagai jam tangannya para orang sukses dunia, layaknya Rolex. Lewat kombinasi yang kuat antara desain, kualitas menakjubkan dan taktik pemasaran brilian, Rolex mampu membangun USP reputasi bergengsinya selama lebih dari 100 tahun.

 

Third Love

internet
sumber: thirdlove

“We have the right fit”

Pakaian dalam wanita merupakan industri dengan nilai jutaan dolar, maka pendatang baru, seperti Third Love harus memastikan mereka mampu berkompetisi dengan banyak brand yang sudah lebih dulu dikenal. Untuk itu, mereka menyusun slogan “we have the right fit” sebagai USP yang terintegrasi dengan branding mereka.

Third love tak hanya menyampaikan pesan tersebut dalam iklan atau copy di situs mereka, tetapi juga mengadakan kuis “Fit Finder” yang bisa dibuka di situsnya sehingga pembeli pertama dapat menemukan ukuran pakaian dalam yang benar-benar pas di tubuh mereka tanpa harus repot keluar rumah.

Jadi, apa yang bikin bisnis kita spesial? Jika kamu bisa menjawab pertanyaan di bawah ini, maka kamu bisa mengembangkan USP.

 

  1. Apa kelebihan dan kelemahan kompetitor kamu?
  2. Mengapa pelanggan menyukai kamu?
  3. Apa yang membuat kamu spesial dibanding kompetitor?

 

Selamat berjuang 🙂

 

 

Diolah dari Marketingresults/shopify

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.