Keterampilan Bisnis vs Pemikiran Enterpreneur

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun
bisnis
sumber: thepitcher

Pernah mendengar banyak praktisi yang mengatakan kalau entrepreneur itu bukan pekerjaan? Yup, banyak praktisi sepakat bahwa entrepreneurship pada dasarnya adalah karakter atau cara berpikir seseorang untuk bertumbuh.

Salah satunya, dikemukakan oleh Gary Schoeniger, Chief Content Development Officer di Enterpreneurial Learning Initiative. Menurutnya, entrepreneurship tak hanya sekedar mencakup keterampilan bisnis, seperti perencanaan pemasaran dan keuangan saja, namun juga kemampuan memahami dinamika masalah manusia.

“Keterampilan bisnis memang penting untuk menjalankan usaha dengan produk dan jasa yang sudah teruji. Namun kerap kali, hal itu menghambat proses enterpreneurship itu sendiri, yakni proses mencari tahu pangkal masalah dan solusi yang ditawarkan oleh bisnis yang dijalankan,”kata Schoeniger.

Kebingungan antara menjalankan bisnis dan menjadi entrepreneur memang begitu nyata. Di satu sisi, keterampilan bisnis merupakan perangkat penolong, namun sebetulnya berbeda dengan fokus entrepreneurship itu sendiri.

Seperti yang mayoritas kita lihat, banyak sekolah bisnis dan program justru mengajarkan taktik untuk mengelola dan mencegah risiko. Dalam bisnis, risiko idealnya harus dihindari dan dibuang jauh-jauh. Baik investor, manajer, eksekutif, dan karyawan semua takut menghadapi risiko.

Sementara, dalam entrepreneurship, risiko justru menjadi sumber kesuksesan. Inovasi dan kreasi tidak akan terjadi tanpa risiko. Enterpreneur diajarkan konsep ini untuk secara tepat belajar mengevaluasi, merangkul risiko, serta menggapai peluang baru.

Kolaborasi dan berbagi ide-ide baru juga menjadi semangat dalam entrepreneurship di kala kebanyakan para pebisnis justru berhati-hati dalam inovasi. Sayangnya, banyak pebisnis yang masih ambigu membedakan peran keduanya.

Identifikasi masalah

bisnis
sumber: inktank

Lalu, bagaimana kita bisa mengidentifikasi masalah jika kita sendiri tak menyadari apa yang memicu masalah itu terjadi? Maka, di sinilah perlu kemampuan membangun nalar kritis alias critical thinking.

Kampus dan sekolah menjadi institusi dalam membangun critical thinking di mana para mahasiswa diajarkan untuk memahami masalah mendalam. Tak dimungkiri, banyak pekerjaan yang membutuhkan kemampuan nalar kritis, seperti analis atau ilmuwan di mana mereka harus mampu menjadi komunikator hebat dan pemecah masalah dalam skala besar. Benarkah hanya cukup critical thinking?

Tak dimungkiri, fokus critical thinking bisa saja gagal mencari solusi hakiki yang justru menjadi dasar dalam entrepreneurial thinking. Hal ini mengingat, entrepreneurial thinking menekankan pada solusi masalah yang tidak selalu melalui proses memilih dan menganalisa ide. Terkadang, solusi ditemukan dalam investigasi di dunia eksternal yang begitu dinamis. Pemikiran ini juga fokus pada konsumen dan pengalaman, bukan sekedar bersifat tradisional dan mengikat.

Di sinilah, mengapa kebanyakan praktisi berpendapat bahwa institusi akademik belum mampu mengembangkan entrepreneurial thinking, lantaran pelajaran di kelas lebih terikat pada metodologi yang baku dan ketat.Bagi mereka yang hendak mengembangkan kemampuan entrepreneurial wajib keluar kampus, bergaul, berinteraksi, berkomunikasi, dan memahami kelompok masyarakat yang menjadi target audiensnya.

Menjadi entrepreneur, tak cukup hanya mengetahui pikiran sendiri, namun juga pemikiran orang lain. Tak cukup pula hanya menjadi kritis dan analitis, tapi juga harus berpikiran terbuka dan memiliki keingintahuan yang besar.Enterpreneurial thinking membutuhkan kerendahan hati, sebuah bentuk realisasi bahwa tak cuma dirinya yang punya pengetahuan, melainkan mampu merangkul apa yang dipikirkan calon prospeknya.

Sudahkah kita punya jiwa entrepreneur?

Baca juga: Mengapa Design Thinking Itu Penting?

 

Diolah dari Enterpreneur/Medium

Leave a Reply

Your email address will not be published.