Gurihnya Bisnis Makanan Tanpa Buka Restoran

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Perhelatan Social Media Week (SMW) 2017 Jakarta memang sudah berakhir. Gelaran tahunan yang biasanya membicarakan tentang perkembangan digital dan new media ini memang selalu dihadiri oleh para praktisi andal di bidangnya, dari mulai penggiat usaha kreatif, selebgram, content creator, news anchor, pengusaha online, serta praktisi branding dan media sosial.

berry kitchen
sumber: twitter.com/SMWJakarta

Salah satu bagian menarik buat saya adalah kehadiran CEO Berry Kitchen Cynthia Tenggara, yang sempat mengisi sesi community meet up SMW 2017. Berry Kitchen sendiri merupakan katering online yang fokus pada pelayanan bekal makan siang karyawan kantor dan eksekutif muda, di Jakarta.

Dengan perkembangan platform media sosial dan penggunanya yang begitu masif, bisnis apapun termasuk kuliner, kini bisa dengan mudah dijajal siapa saja, bahkan tanpa harus membuka toko fisik. Tak hanya menyediakan makanan siap saji, lewat paket meal kit delivery memungkinkan para pelanggan Berry Kitchen untuk memasak bahan makanan yang telah melalui takaran.

berry kitchen
sumber: instagram.com/berrykitchen

Berdiri sejak 2012, dan berhasil mengirimkan lebih dari 245 ribu kotak makanan kepada 7000 pelanggannya, Berry Kitchen akhirnya mendapat suntikan dana Seri A sebesar Rp16,6 miliar dari Sovereign’s Capital pada pertengahan tahun 2015 lalu. Mereka pun berupaya mengembangkan bisnis hingga 5 kali lipat di tahun 2016 serta membuka dapur baru seluas 800 meter persegi di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Menurut Managing Principal Sovereign’s Capital Luke Roush, katering online, semacam Berry Kitchen merupakan konsep baru dan segar di era platform teknologi seperti sekarang. Semua orang butuh makan siang, dan tak mudah memenuhi kapasitas pengiriman hingga 2000 boks dalam sehari. Tidak semua perusahaan katering juga mampu melakukannya.

berry kitchen
sumber: instagram.com/berrykitchen

Untuk strategi media sosial, Berry Kitchen memiliki akun resmi di Facebook dan Instagram. Jika di Facebook lebih dimanfaatkan untuk memposting kategori makanan yang cenderung fast moving, maka di Instagram lebih ditujukan untuk menjual paket makanan dengan harga lebih tinggi. Makanan yang disajikan pun diklaim sehat karena tak menggunakan bahan perasa, seperti MSG. Demi menarik minat pelanggan, mereka juga sempat mengadakan progam kolaborasi dengan para chef ternama untuk beberapa paket menu pilihan.

Gimana, menarik kan peluang bisnis katering online ini?

Sumber: techcrunch/marketeers/SMWJakarta

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.