Di Balik Layar Gaya Flamboyan Bos Playboy

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Seorang ikon media dan hiburan sekaligus pria paling flamboyan, Hugh Hefner memang sudah tiada. Dia meninggal dunia di kediamannya Playboy Mansion, di Los Angeles, California, AS pada Rabu malam (27/9) lalu. Saat mendengar kabar ini, saya jadi teringat beberapa isu kontroversi di Indonesia terkait penerbitan perdana majalah pria dewasa berlambang kelinci tersebut sekian tahun lalu.

Namun, yang saya juga ingat adalah celetukan teman pria saya yang mengatakan, jika Playboy adalah majalah pria dewasa satu-satunya yang punya konten bagus. Seriously, is that true? Saya sendiri belum pernah pegang majalah ini, apalagi membacanya 🙂

“Hef”, panggilan akrab bagi Hugh Hefner mengawali karirnya sebagai seorang penulis di sebuah koran militer. Setelah 2 tahun bertugas, dan kuliah di bidang psikologi, ia sempat melanjutkan karirnya sebagai copywriter di majalah Esquire tahun 1952. Lantaran, permintaan kenaikan gajinya tidak dipenuhi, ia berhenti, dan setahun kemudian (1953), ia mendirikan majalah Playboy yang kemudian jadi  fenomenal.

Di luar cerita tentang pesta seks, dan kontroversi seputar kehidupannya, banyak pihak menilai jika “Hef” adalah seorang editor visioner yang ingin mewujudkan mimpinya dengan mengenalkan isu ketelanjangan dan seksualitas ke budaya mainstream Amerika dan dunia. Selama ber-dekade lamanya, Hef membangun “gaya hidup Playboy” lewat piyama sembari berpesta dan dikelilingi para wanita cantik di kediaman mewahnya, di Playboy Mansion.

Pada edisi perdana Playboy tahun 1953, aktris Marilyn Monroe rela bertelanjang untuk menjadi cover majalah itu. Sontak publik AS dibuat terkejut, namun dengan cepatnya, majalah ini mencuri perhatian khalayak yang lebih luas dan mempelopori revolusi seksual tahun 1960. Pada edisi Desember 1953, majalah itu habis terjual sebanyak 50 ribu eksemplar. Namun, Hef sendiri pernah menegaskan jika majalahnya bukan majalah “seks”. Sejak awal, ia mempekerjakan para penulis top untuk membuat Playboy memiliki kredibilitas budaya.

hugh hefner playboy
Tahun 1961
Sumber: AP

Ia menerbitkan banyak artikel yang ditulis para penulis terkenal  dan berbobot seperti, Saul Bellow, Norman Mailer, James Baldwin, dan Joyce Carol Oates. Di antara karya yang pernah terbit di Playboy adalah Alex Haley (Roots), Larry L King (The Best Little Whorehouse in Texas), Cameron Crowe (Fast Times at Ridgemont High), John Irving (The World According to Garp), serta Bob Woodward dan Carl Bernstein (All the President’s Men).

Tak hanya itu, majalah ini juga kerap menampilkan wawancara mendalam bersama figur ternama dari mulai bidang politik, olahraga, dan hiburan. Sebut saja, nama-nama besar, seperti Martin Luther King, Jr. Muhammad Ali, Fidel Castro, dan Steve Jobs pernah menjadi narasumber utama. Salah satu bagian pemberitaan paling fenomenal muncul di tahun 1976, saat calon presiden Jimmy Carter bilang dalam sebuah wawancara Playboy: “Saya melihat begitu banyak wanita dengan gairah, saya teringat dalam hati sudah berapa kali berzina,”.  Damn!

Setiap bulannya, Hefner juga menulis editorial di mana ia selalu mengingatkan tentang “Playboy philosophy”. Dalam pandangannya, kebebasan seksual merupakan bagian dari semangat kebebasan, termasuk kebebasan bersuara, kebebasan sipil, kesetaraan ras, bahkan yang paling kontroversial adalah kebebasan menikah sesama jenis 🙁

hugh hefner
sumber: independent.co.uk

Formula majalah yang cenderung glossy nudes, ditambah penulisan dan kartun serius, serta tips seputar musik, seks, mobil, dan pakaian, mengubah konten Playboy sedikit demi sedikit disukai kaum urban, terutama pria dewasa. Tapi, yang mengejutkan, Playboy juga memiliki pembaca dari kalangan rohaniawan dan wanita yang mendapat diskon 25 persen berlangganan.

“Hefner adalah seorang pebisnis brilian,”kata David Allyn, penulis “Make Love, Not War: The Sexual Revolution, an Unfettered History kepada Washington Post.

Menurutnya, Hef mendirikan Playboy pada saat Amerika memasuki periode optimisme besar di bidang ekonomi dan sosial. Pandangannya tentang liberalisme seksual dinilai cocok dengan aspirasi pasca perang. Hef selalu mengawasi operasi editorial dari awal dan bisa bekerja selama 40 jam tanpa istirahat, dengan mengandalkan amfetamin, Pepsi-Cola, bahkan cerutu.

Ia memang mempekerjakan banyak editor dan artis profesional untuk membawa visual mengagumkan bagi tiap halaman Playboy, namun, tak ada keraguan, bahwa pengarah utama di balik Playboy, adalah Hefner sendiri. Selama bertahun lamanya, majalah ini diproduksi di kampung halamannya, Chicago. Sebelum usianya beranjak ke 50 tahun, Hefner pernah dijuluki majalah Esquire sebagai “editor paling terkenal dalam sejarah dunia”.

Kontroversi

Di Playboy Mansion, yang berdiri pertama di Chicago dan kedua di Los Angeles, Hefner gemar mengadakan pesta yang menarik perhatian selebriti Hollywood. Jika ditilik dari segi budaya pop, ide dan imajinasi seksual yang dipopulerkan Playboy mendadak memberi pengaruh besar di dunia film, televisi, dan media lainnya sebagai suatu bentuk dukungan yang merefleksikan nilai Hef.

Meski demikian, Hef terus menghadapi kritik bertubi-tubi dari banyak pihak, terutama kalangan agamawan dan kaum feminis yang menganggap jika majalahnya itu merendahkan martabat wanita. Seorang penulis feminis Gloria Steinem pernah menyamar untuk bekerja di Playboy Club, di New York demi mengumpulkan sejumlah informasi yang kemudian menjadi artikel undercover untuk Show Magazine di tahun 1963. Playboy, seperti nama majalahnya,  klub ini menjadi surga dunia bagi para lelaki.

hugh hefner
Sumber: The Guardian

Steinem menuliskan, jika para wanita yang menjadi pekerja “bunnies” Playboy cenderung berpendidikan rendah, terlalu lama bekerja, dan diupah minim. Menurut dia, majalah dan klub Playboy itu tidak hanya erotis, namun juga “porno”.

Dalam penyamaran, Steinem menggunakan identitas palsu sebagai Marie Catherine Ochs, yang pernah bekerja sebagai sekretaris, dan menjadi ratu kecantikan. Steinem melamar di klub, dan ditawari gaji dua kali lipat dari waitress. Ia menjelaskan dalam diary-nya, bahwa ia diharuskan melakukan tes darah dan pemeriksaan fisik sebelum dipekerjakan serta dianjurkan memakai kostum kelinci di mana “dua inch lebih kecil dibandingkan ukuran pakaian umumnya, kecuali untuk lingkar dada”.

Para bunnies,  diharuskan membayar sendiri untuk bulu mata palsu, stocking, dan diminta upah lagi setiap mereka mencuci kostumnya. Klub juga mengambil 50 persen atas 30 dolar pertama yang mereka dapatkan dari tip pelanggan. Sistem ketat diberlakukan di mana bonus para bunnies akan dipotong, jika mereka datang terlambat, makan saat bekerja, atau tidak mematuhi standar klub bagaimana harusnya berpenampilan.

Kala mereka diminta untuk kencan dengan seorang yang penting, mereka dilarang untuk menerima tawaran kencan dari pelanggan lainnya. Klub Playboy juga mempekerjakan detektif yang dipinjami ratusan dolar untuk “menjebak” para bunnies, karena jika menerima tawaran, pihak klub akan memecatnya.

Selama bekerja dan melakukan investigasinya, Steinem baru menemui satu wanita yang mampu menghasilkan 200 dolar seperti yang diiklankan, sedangkan kebanyakan jauh mendapat penghasilan di bawah itu. Artikel Steinem yang merupakan hasil penyamaran itu pun akhirnya difilmkan dengan judul “A Bunny’s Tale”,  dibintangi Kirstie Alley di tahun 1985.

hugh hefner
A Bunny’s Tale 1985
Sumber: eonline.com

Dari kalangan agamawan,  sejak awal banyak komunitas agama di AS yang menentang publikasi Playboy. Seorang pastur dan penulis L.L Clover asal Lousiana mengatakan, jika Playboy akan mendorong para pria untuk memandang diri mereka sebagai” pencari nafsu seks dan wanita hanya sebagai mainan”.

Di beberapa negara Asia, seperti India, China, Myanmar, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Brunei, penjualan dan distribusi majalah Playboy dilarang. Penjualan dan distribusi terutama dilarang di banyak negara Asia dan Afrika yang berpenduduk mayoritas muslim, kecuali Lebanon dan Turki.

Meski begitu, brand resmi Playboy masih dapat ditemui di ragam merchandise, seperti parfum dan deodoran. Pada Maret 2016 lalu, Playboy pertama kalinya terbit tanpa foto-foto telanjang. Perusahaan pun mengklaim jika penjualan naik 30 persen selama 6 bulan pertama, meski jumlah pelanggan berbayar turun.

Berbagai sumber/washingtonpost/independent.co.uk/wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published.