Di Balik Kampanye Unik “Burger Jamuran” ala Burger King

kampanye burger king
sumber: engnews24h

Bukan Burger King namanya kalau tidak mampu membuat khalayak bertanya-tanya atau terheran-heran dengan aksi kampanyenya. Setelah membuat kampanye “augmented reality” di mana para pelanggannya diminta membakar poster-poster iklan kompetitor  secara digital untuk mendapat sebuah “Whopper”, kini mereka kembali membuat iklan viral.

Sebuah klip berdurasi 45 detik, dimulai dari tampilan hidangan segar burger umumnya berisi daging, tomat, saus tomat, acar, saus putih, bawang, kol, dan roti. Lalu, dalam hitungan hari, satu per satu tampilan bahan makanan tadi mulai berubah layu, hingga menjamur seluruhnya sampai hari ke 34.

Tentu saja ada kontroversi terkait kampanye tersebut. Sebagian menyebut, iklan semacam itu mungkin hanya ingin mengejar penghargaan saja, karena justru banyak orang yang jadi segan beli Burger King. Tapi, sebagian lain justru mengatakan sebaliknya, bahwa ide kampanye tersebut terbilang “gila” sehingga banyak orang yang akan membicarakannya.

Kampanye tersebut memang bukan tanpa alasan, karena manajemen Burger King (BK) punya kebijakan untuk tidak lagi menggunakan bahan pengawet/pewarna buatan terutama untuk pasar Eropa dan AS. Iklan ini memang terlihat menjijikan, tapi BK tengah berupaya meyakinkan pasar bahwa burger signature yang mereka jual dijamin terbuat dari bahan baku segar.

Menurut Chief Marketing Officer Restaurant Brand International BK, Fernando Machado, di Burger King, pihaknya percaya bahwa makanan asli terasa lebih baik. Itulah mengapa BK bekerja keras untuk menghilangkan segala bahan pengawet, pewarna, atau rasa buatan yang dihidangkan di seluruh dunia. Lalu, apa kata para pekerja kreatif mengenai kampanye BK ini seperti dilansir dari situs thedrum?

“Saya tak pernah kepikiran McDonald sejak melihat iklan ini” –Eve Young, copywriter Social Chain Agency-

Saya terobsesi dengan kampanye ini. Sangat terang, enak dipandang, dan tak terduga. Selain itu, iklan ini mampu menyampaikan tujuannya. Kalau kita pernah melihat sebuah video viral tahun lalu, tentang dunia fotografi makanan yang berupaya memalsukan imej makanan sehingga terlihat menawan,  apa yang dilakukan BK malah sebaliknya.

Kita mesti mengapresiasi transparansi yang dilakukan BK saat membuat Whopper. Tanpa kita sadari, sebetulnya kita terus memasukkan bahan kimia ke dalam tubuh kita. Konsumen perlu tahu apa yang masuk ke tubuhnya. Inilah jaminan yang harus diberikan brand.

Apa pun opini kalian, nyatanya kita tak bisa menyingkirkan aspek emosional terhadap kampanye ini. Begitu kuat tertanam di memori. Inilah yang banyak brand gagal memahami bahwa “membagi” orang bisa jadi kemenangan. Debat, pembicaraan, atensi. Saya tak pernah kepikiran McD sejak melihat iklan ini, saya kepikiran BK sampai 100x.

“Harusnya banyak brand yang mengambil risiko seperti ini,’ –David Proudlock, head of strategy, CPB London

Terkadang, mengambil risiko bisa menjadi hal baik, terlebih jika kita ingin mengejar perbedaan dan viralitas. Saya bicara tentang brand, karya, dan tentu saja isu utama yang dibawa, yakni komitmen terhadap upaya penghapusan bahan pengawet makanan cepat saji.

Tim kreatif iklan tersebut begitu berani dan lantang bicara tentan isu yang cukup sensitif itu. BK tengah membangun brand personality yang disruptif dalam konteks ini, dan mereka menjalankannya dengan sempurna.

Ini jadi salah satu contoh kampanye BK yang secara tak langsung menyerang McD. Menarik memang, melihat klien menantang hal fundamental di kategori tersebut. Industri ini harusnya bisa lebih baik jika banyak brand mau mengambil risiko seperti ini.

“Iklan ini membuat saya menghubungkan BK dengan kandungan segar,”- Leila Mountford, creative director, Lewis Global Communications.

Sebagai konsumen, tentu kita cukup berjuang dalam beberapa decade terakhir untuk memahami bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Jika menonton dokumenter atau reality tv show,  banyak menunjukkan aneka makanan yang harus dihindari demi kesehatan.

Di satu sisi, iklan BK satu ini akan membuat kita berpikir, “tentu saja pengawet itu harus dihilangkan”. Iklan ini memukul mundur termasuk, para penggemar burger di luar sana. Namun, sekaligus mampu menciptakan koneksi di memori saya tentang sebuah kisah viral beberapa tahun lalu.

Tahun 2013, seorang pria asal Utah  menemukan sebuah burger McD yang tanpa sengaja ditinggalkan di bagasinya sejak tahun 1999. Saat membuka bungkusnya, betapa terkejutnya si pria melihat burger tersebut masih utuh tanpa rusak sedikitpun. Bisa kebayang, jenis pengawet macam apa yang digunakan McD, hingga burger tersebut bisa bertahan selama 14 tahun?

Saya tak tahu, apakah ide kampanye BK terbaru ini terinspirasi dari kisah tersebut. Tapi, yang jelas, iklan ini membuat saya berpikir tentang Burger King dan kandungan segarnya.

“Iklan ini dibuat untuk penghargaan, bukan jualan”– Nathalie Gordon, freelance creative lead

Saya melihat iklan ini punya strategi dan konteks kultural yang relevan. Saya bisa menghargai cara berani untuk menunjukkan berita “tanpa pengawet”. Tapi, apakah ini tujuannya jualan burger? Burger King? Tidak.

Kebanyakan orang tidak melihat apa pun, kecuali burger yang membusuk dan berjamur. Dan inilah yang kemudian masuk ke pikiran. Iklan ini bukan untuk jualan, tapi untuk mendapat penghargaan karena keberanian dan “kecerdasannya”.

 

Sumber: TheDrum/CNBC

Leave a Reply

Your email address will not be published.