Cara Memilih Tipe Orang yang Harus Ada dalam Tim Bisnis

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Tepat memang jika ada hadist Rasul yang mengatakan, barang siapa yang berteman dengan penjual minyak wangi, maka engkau akan mendapat bau harum darinya, sedangkan barang siapa yang berteman dengan pandai besi, maka engkau pun juga akan terpercik bau asapnya. Artinya, jika kita bersahabat dengan orang yang baik, maka kita pun berpotensi ikut menjadi baik, begitu pun sebaliknya. Dengan siapa kita berteman cenderung memengaruhi kondisi dan masa depan.

Hal tersebut juga serupa dengan konsep dalam psikologi yang disebut emotional contagion di mana emosi pun bisa ditularkan antar sesama. Bagi mereka yang kerap berkawan dengan yang memiliki emosi positif, maka emosi itu pun cenderung bisa tertular ke dirinya. Sebaliknya, mereka yang kerap berteman dengan orang negatif, juga bisa cenderung terpapar hal-hal negatif. Maka itu, tentu sangat penting memilih teman baik untuk kehidupan personal maupun dalam urusan pekerjaan.

Dalam bisnis, pastinya kita membutuhkan orang lain untuk masuk dalam tim, terlebih jika bisnis tersebut sudah cukup mapan. Jika saat memulai bisnis, para pemilik masih dipusingkan urusan pemasaran dan penjualan, namun kala bisnis tersebut sudah cukup mapan, maka sudah saatnya memikirkan untuk membangun tim yang solid dan kompak. Namun, yang banyak menjadi masalah bagi pemilik adalah bagaimana caranya memilih partner atau orang-orang yang tepat untuk masuk dalam tim agar bisnis makin berkembang lebih cepat.

Banyak orang yang bilang, jika memilih partner yang punya uang lebih banyak adalah faktor sangat penting, yah nggak heran karena keterbatasan dana akan menghambat inovasi dan perkembangan usaha 😀  Namun, uang tentu bukan segalanya, ada faktor-faktor lain juga yang harus dipertimbangkan, terutama terkait mindset dan karakter orang tersebut:

Apakah kalian punya value yang sama?

Hal pertama yang harus dilihat adakah kesamaan value (nilai yang dianut) antara pemilik dan sang partner. Kesamaan nilai-nilai inilah yang akan menentukan mulus tidaknya mencapai visi misi perusahaan ke depan. Sebanyak apa pun uang kas yang dimiliki perusahaan, pada akhirnya tak akan berguna untuk jangka panjang jika tim tidak mampu sejalan dengan nilai dan tujuan perusahaan. Masalah yang banyak terjadi adalah minimnya komunikasi hingga menyebabkan kontra produktif, lantaran tim tidak benar-benar memahami soul dari perusahaan tempatnya kerja.

Tentukan sang pemimpin

Setelah mendapat partner yang punya value sama, tentukan juga siapa yang akan menjadi pemimpin di perusahaan. Dalam diri tiap orang, pada dasarnya terdapat talenta untuk menjadi leader, manajer, atau eksekutor. Dengan mengenali mana kemampuan yang lebih dominan itu, maka kita cenderung bisa menentukan posisi kita baiknya di mana. Seorang pemimpin idealnya harus mampu menjadi suara bagi organisasinya, mengelola orang, menciptakan inovasi dan sistem, berorientasi visi, serta mampu menjadi inspirator.

Menempatkan tim sesuai karakter

Setelah masalah penjualan, finansial dan kepemimpinan kelar, langkah berikutnya adalah mencari tim untuk ditempatkan di masing-masing divisi sesuai kebutuhan. Setiap orang tentunya memiliki kepribadian dan karakter beda-beda. Secara psikologis, tipe kepribadian orang umumnya tergolong empat yakni sangunis, koleris, phlegmatis, dan melancholis (cari sendiri bedanya) 🙂

Sedangkan karakter karyawan biasanya terbagi dalam tiga jenis yang harus disesuaikan pula dengan gaya kepemimpinan si pemilik, yakni:

  1. Autocratic: Tipe orang yang tak perlu berlebihan diceramahi visi misi perusahaan. Beri mereka perintah jelas, upah, dan waktu pengerjaan yang jelas pula. Biasanya tipe-tipe ini adalah orang –orang yang tergolong memiliki motivasi rendah.
  2. Transactional: Tipe orang yang selalu mengukur tiap detil pekerjaan dengan uang. Mereka mau kerja lembur atau di luar hari biasa, asalkan bisa mendapat uang dan bonus.
  3. Transformational: Di perusahaan-perusahaan besar, tipe-tipe orang inilah yang masuk talent pool. Mereka cenderung memiliki motivasi tinggi di mana ilmu dan karir adalah hal utama, dan gaji bukan segalanya.
 Berbagai sumber/Enterpreneur

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.