Benarkah Budaya Organisasi Lebih Penting dari Visi?

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun
budaya
sumber: thechive

Ada satu kalimat di linkedin yang membuat saya tertarik mendalami lebih jauh, yakni “culture is more important than vision”. Kita semua sama-sama tahu bahwa visi dan budaya merupakan aspek esensial dalam membangun arah organisasi. Tapi mengapa ada seseorang yang berpikir kalau budaya malah lebih penting dari visi? Ternyata ini kalimat lengkapnya..

“Culture is more important than vision. Some leaders have great vision, but have created a toxic culture where that vision will never happen.” -Phil Cooke-  

Di salah satu grup medsos, saya juga pernah mendengar keluhan beberapa pemilik restoran yang merasa kewalahan karena turn over karyawan yang tinggi hingga masalah kemalasan akut tim saat bekerja. Satu hal yang pasti, gaji/bonus besar juga tidak selalu menjamin karyawan betah. Jadi, apa penyebab utama karyawan malas atau tidak betah bekerja?

Inilah yang dinamakan “toxic environment”. Hal-hal seperti, ketidakadilan, bullying, kontrol berlebih dari atasan, minimnya empati, apresiasi, dukungan, tantangan dan integritas adalah sebagian kecil dari adanya toxic environment. Dengan kondisi semacam itu, sehebat apapun visi seorang pemimpin akan sangat sulit dieksekusi.

Toxic environments make people sick, make projects fail, and make best employees quit” (smestrategies.net)

Bagi entrepreneur yang menjual produk sekaligus jasa, maka harap diingat bahwa, “we are in the “People Business” selling food/drink/fashion/skincare etc”. Jadi, setelah memikirkan dengan matang visi, konsep dan model bisnis, maka tugas selanjutnya adalah “managing people”.

Orang-orang dalam organisasi inilah yang akan membuat brand kita punya reputasi baik atau buruk, bisa dipercaya atau tidak. Mau sehebat apa pun sistem yang diciptakan, akan percuma jika tak dijalankan orang-orang yang cakap dan kredibel.

Nah, sekarang saya baru paham mengapa budaya punya posisi strategis dalam business plan dan organisasi. Tak heran kalau seorang guru manajemen Peter Drucker pernah mengatakan “Culture eats strategy for breakfast. Dalam pemahaman praktis, tak penting strategi atau perencanaan bisnis apa yang diterapkan untuk tim, karena kesuksesan dan efektivitas rencana itu pasti tertunda apabila orang-orang yang mengimplementasikan rencana/strategi tidak didukung sepenuhnya oleh budaya di dalamnya.

Budaya bisa menjadi resep rahasia yang membuat karyawan selalu termotivasi dan klien yang bahagia. Membangun budaya lebih dari sekedar menetapkan nilai-nilai dan visi, tapi harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari (walk the talk). Maka, tak heran jika banyak orang berhenti kerja bukan karena perusahaan atau pemimpinnya, tetapi karena budaya organisasinya. Berikut ini adalah beberapa langkah mengembangkan budaya organisasi:

 

Survei

Banyak riset yang menyebut, jika milenial termasuk kaum yang paling tidak loyal terhadap pekerjaannya alias sering jadi kutu loncat. Banyak perusahaan yang kewalahan pula mengakomodasi keinginan mereka yang dianggap “macam-macam”. Coba sesekali melakukan survei kepada anggota tim, apa sih sebenarnya perubahan yang mereka inginkan di organisasi, dan bagaimana mereka melihat masa depan. Berikan mereka waktu untuk memikirkan masa depan ideal yang diimpikan, dan bagaimana hal itu bisa diakomodasi organisasi.

Dialog

Ketika seorang karyawan melamar dan menerima sebuah pekerjaan, pada dasarnya ia siap berkontribusi pada kesuksesan organisasi usaha tersebut. Sebagai pemimpin, kita bisa mencoba menciptakan ruang diskusi mengenai bagaimana pekerjaan yang mereka jalankan selalu lebih baik dari hari ke hari dan membuat mereka merasa berarti. Semakin pemimpin menghargai apa yang mereka kerjakan, maka semakin terikat emosi pula mereka dengan pekerjaan tersebut.

Kembangkan visi

Apa gunanya sebuah visi tanpa dijalankan oleh segenap individu dalam organisasi? Pada dasarnya karyawan perlu tahu kemana mereka akan berjalan dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap tercapainya visi tersebut.

Buat deskripsi pekerjaan dan tolak ukur pencapaian yang jelas bagi karyawan. Jangan sesekali mencampuradukkan pekerjaan kantor dengan urusan pribadi. Jika visi dan arahan saja tidak jelas, maka organisasi akan kehilangan peluang untuk membangun budaya.

Salah satu hal yang juga banyak membuat karyawan kesal adalah ketidakpastian. Semuanya dibuat jadi serba “kebijaksanaan”, hal inilah yang berpotensi menimbulkan kecemburuan atau persepsi “like & dislike” pemimpin terhadap timnya.

 

Smestrategies.net/linkedin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.