An authentic story vs Hoax

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Gara-gara gaduh soal penistaan agama dan pilkada DKI yang gak selesei-selesai juga, bahkan sampai masuk bulan Ramadan, saya jadi gerah pengen bahas isu satu ini.Berhubung gak ada kategori politik di blog ini, jadi masukin ke hiburan aja deh 🙂

Sebelumnya, ngomong-ngomong  apa yang dibilang ahli pemasaran Seth Godin dalam artikel  Menilik Sejarah Ilmu Pemasaran Dimulai dari Gladiator  gambarannya bisa lebih jelas kalau kita baca karya bukunya yang judulnya “All marketers are liars”. Ini buku ternyata udah lama terbit sejak tahun 2005, dan sekarang emang agak sulit nyarinya di toko-toko buku online.

Jadi, saya cuma bisa baca review-nya di beberapa situs, dan salah satu kesimpulan yang makin jelas adalah, pada intinya manusia itu bukanlah makhluk yang logic, tapi makhluk emosional.

Makanya, gak heran kalau evangelist brand, seperti Harley Davidson dan Apple bisa sukses gila-gilaan memasarkan produknya. Lantaran, pada akhirnya keputusan konsumen membeli lebih karena dasar “keinginan” daripada “kebutuhan”.

“Marketers succeed when they tell us a story that fits our worldview,  a story that intuitively embrace,  a story we want to believe, then share with friends.”- Seth Godin

jam rolex
dok. rolexforum

Jadi, para fans loyal yang rela membeli Harley Davidson dan meski harganya lebih mahal dari mobil sekalipun, itu karena mereka percaya bahwa mereka bakal tampil keren, atau kalau pakai jam tangan Rolex, mereka percaya bahwa mereka adalah orang sukses.

Pakai Apple, mereka percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang #ThinkDifferent. Oh, jadi Ini yang namanya branding sebagai ikatan emosi, karena mereka percaya dengan cerita otentik yang disampaikan.

Hal ini makin menguatkan apa yang pernah disampaikan Dale Carnegie semasa hidupnya;

“When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion,”

Jadi, bukan si pemasarnya yang berbohong, melainkan si konsumen yang membohongi dirinya, dengan berusaha membenarkan dan meyakinkan pemikiran dan tindakannya sendiri atas cerita-cerita si pemasar 🙂

Menarik juga ternyata, kalau apa yang ditulis Seth Godin itu, gak hanya berhubungan dengan dunia bisnis aja, tapi menurut saya juga berhubungan dengan apa yang terjadi dengan kondisi sosial politik di Indonesia sekarang.  Seperti yang kita tahu, sejak kasus penistaan agama dan pilkada DKI, hingga kini di sosial media gak henti-hentinya jadi sarana perang agama dan ideologi.

will smith
dok. quotefancy

Sekarang saya paham, gak peduli itu orang high class sosialita, sering pelesiran ke luar negeri, figur publik, pendidikan master, doktor, mungkin bergelar profesor, punya jabatan perlente, semuanya bersikap emosional ketika udah sampai pembahasan pandangan hidup, nilai, dan keyakinan.

Gak jarang, informasi yang mereka unggah dan bagikan di sosmed pun, berisi hoax, sindiran, ujaran yang cenderung menghina dan mendiskreditkan tokoh atau pihak tertentu tanpa diteliti sumber kebenaran dan akurasinya.

Isu agama yang tadinya tabu dibicarakan, mendadak menyeruak ke ruang publik tanpa sekat dan toleransi. Tanpa peduli pula, mungkin ada kerabat, teman, atau saudara yang tersinggung.

Fakta lapangan, data, sejarah, dan kajian ilmiah tetiba terlupakan gitu aja, karena mereka ingin percaya “cerita” yang sengaja “dibentuk” kemudian disebarluaskan lewat berbagai media. Namun, cerita menurut pemikiran Seth Godin adalah cerita harus otentik bukan yang menggiring persepsi apalagi membohongi.

Dari awalnya, hanya kasus hukum satu orang wae, isu-isu yang ditebar makin ke sini cenderung gak mutu, seperti  mayoritas vs minoritas, Pancasila vs AntiPancasila, radikal vs NKRI, kafir vs non kafir, SARA vs BhinekaTunggalIka, agama dijadikan alat politik??? Jualan agama?? Ganti dasar negara???

Ampuun DJ *berasa kayak masuk lorong waktu balik ke zaman Kerajaan Majapahit bow 😀

 

 

 

hoax
Indonesia benar-benar butuh sosok pemimpin negarawan yang mampu  merangkul semua golongan, keyakinan, dan ras, dan mampu pula meredakan konflik di masyarakat serta  paham cara menyelesaikan masalah lewat pendekatan dialog yang lebih humanis. dok rri

Bicara soal agama, berdasarkan pemikiran waras saya, bukannya dari zaman dulu tujuan diturunkan agama itu untuk mengatur setiap sendi kehidupan manusia (termasuk politik dan pemerintahan) supaya lebih beradab? (baca: sila ke 1 & 2 Pancasila).

Bronislaw Malinowski bilang bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense (rasionalitas dan teknologi). Walaupun tak dimungkiri pula bahwa ada upaya manusia untuk menafikan agama alias memunculkan gerakan sekularisme yang juga jadi fenomena masyarakat global.

(Dan, tiap agama kan punya aturan dan hukum sendiri yang diyakini oleh masing-masing penganutnya sebagai wahyu Tuhan, mau ikut syukur, kagak ya terserah juga urusan masing-masing lo kan, gak ada paksaan toh), kenapa jadi semua orang ribut sih? Gitu aja repot…

Semakin digoreng tuh isu agama, surga, neraka, milih pemimpin seiman vs Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai semua perbedaan, ini sih sama aja kayak debat kusir antar keyakinan tentang Isa Al Masih itu Nabi atau Tuhan?

Tom cruise
(Jujur aja yah, mau nunggu gue main film Hollywood bareng Tom Cruise juga kagak bakal ketemu kalee jalan tengahnya)…
dok.itonline

Masalah suatu keyakinan kok diperdebatkan semua agama, semua orang, semua golongan dengan macem-macem tipe, karakter dan tingkat keimanan, ya kacau deh. Emang kita lagi pada belajar tafsir dan studi perbandingan agama semua

E.E Evans-Pritchard, salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris, mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya bisa dipahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri.

Hal ini pernah ia rasakan, misalnya, saat menulis tentang perjuangan para Sufi di Cyrenaica Libya melawan penjajahan Italia, di mana ia merasa kesulitan untuk menjelaskan fenomena ketaatan pengikut Sufi terhadap guru Sufi mereka.

Terlepas, dari memang adanya kelompok mengaku Islam di Indonesia yang menyimpang dari ajaran sebenarnya, yang dialami peneliti Pritchard tersebut analoginya seperti kita dipertontonkan video sepotong-potong ceramah beberapa ustadz di Youtube.

Lalu, disebar di luar dari pengikut umatnya, kemudian ditafsirkan secara membabi buta, lebih parahnya tanpa kajian dan penelitian lebih dalam. Sekarang, tetiba saja, banyak orang yang jadi pengamat perbandingan agama, hukum, dan politik karbitan tebar komentar tanpa dasar keilmuan yang holistik, menuding pula dengan ujaran nyinyir dan tak pantas 🙁

Lah dulu-dulu, waktu ada kasus gerakan separatis di Aceh, Papua, Timor Leste, atau konflik agama di Poso,  kemana aja, kok gak ada ribut #SaveNKRI? Indonesia kan bukan Jakarta doang? (baca sila ke-3)  *facepalmlagi

Kenapa pula, pasal penistaan agama di bawah naungan hukum NEGARA (hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia loh) yang dari dulu adem ayem gak dipermasalahkan, tetiba jadi ribut buat direvisi sekarang? (baca sila ke-5).

Nabi bukan, malaikat apalagi.. benarlah ternyata, upaya “personal branding” si bapak yang satu itu luar biasa berhasil. Begitu si bapak itu merasa “dizalimi”, para “oknum” pengikutnya rela menghalalkan segala cara, termasuk tega-teganya nyebar fitnah, berita lebay, isu gak mutu, dan hoax atas tokoh atau kelompok yang gak sepaham..*baca SEWORD is in the air.

hoax
Rocky Gerung Pakar Filsafat dan Logika UI. Perdebatan antara orang yang pakai logika dan perasaan, sampai lebaran kuda gak bakal ada kata sepakat. Mending ganti topik deh :p

Dulunya, saya cukup mengagumi bapak itu, atas cerita tentang deretan prestasinya selama jadi kepala daerah di Babel atau gaya ceplas ceplosnya yang menantang siapa saja pelanggar hukum di Jakarta terutama ke sopir-sopir bis metromini dan kopaja yang kayak preman di jalan raya.

Tapi, saya juga sedih dan tersinggung begitu mendengar ucapan dari mulut beliau sendiri yang melabeli Quran dengan kata “bohong”, disiarkan di ruang publik yang tersebar lewat video. Lebih menyedihkan lagi, sebagian umat Islam yang merasa tersakiti dan hanya ingin menuntut keadilan atas kasus tersebut malah dicap sebagai kelompok anti Pancasila dan anti keberagaman.

Ternyata, gak semua orang itu bisa jadi pemimpin semua golongan dengan segala kedinamikaannya dan punya kecerdasan emosional yang bisa menyelesaikan masalah pakai pendekatan humanisme dan budaya. Menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah makhluk budaya, punya kehendak, imajinasi, perasaan, dan gagasan. Dalam ranah ilmu sosial, agama dipandang sebagai salah satu unsur kebudayaan yang dijadikan pedoman dan nilai sakral, kemudian jadi tuntunan perilaku manusia.

Meminjam istilah penting sacred dan profane  Emile Durkheim, dalam bukunya The Elementary Forms of the Religious Life, sebetulnya menunjukkan bahwa setiap religi dan aliran kepercayaan di muka bumi (animisme, dinamisme, totemisme) ini pastinya memiliki konsep pemahaman masing-masing atas distingsi kedua istilah itu.

Terlepas, dari pandangan Durkheim yang cenderung reduksionis, dan menggeneralisir bahwa kemunculan religi hanyalah sebagai entitas untuk menjaga keutuhan sosial masyarakat, namun tak bisa dimungkiri pula betapa pentingnya (sacred) tuntunan agama bagi para penganut yang meyakini dan mengamalkan ajaran tersebut dengan sukarela dan penuh kesadaran.

Dan, bicara soal keyakinan seseorang atau kelompok tertentu, pastinya tidak bisa dijelaskan secara sederhana, apalagi dengan pemikiran dangkal. Jadi, kalau masih memperdebatkan keyakinan yang tidak merujuk pada sumber yang sama, bisa dipastikan kegaduhan bakal terus terjadi. Dan, setahu saya Pancasila itu merangkul enam agama besar di Indonesia untuk menjalankan apa yang memang menjadi keyakinan masing-masing. TITIK.

Pertanyaannya, pemimpinnya mau merangkul gak atau malah sengaja mempertentangkan dan mengadu domba?

Kalau mengurus masalah dasar kemanusiaan aja belum beres, yah jangan mimpi mau terbang ke luar angkasa 😀

 

#justsaying #justmy2cents #nooffense #stayrelax #keepcalmandcool #jagakewarasan  #yukgantitopik #gantiisulebihmutu #stophoax #stopfitnahkeji  #INDONESIAMOVEON #INDONESIAMERDEKA #INDONESIADAMAI

Leave a Reply

Your email address will not be published.