Apa Perbedaan Marketing, Advertisement, dan Branding?

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Salah satu hal yang menyenangkan bagi saya ketika merintis usaha sendiri adalah bisa belajar banyak hal baru, seperti advertisement, marketing online dan lainnya. Memiliki usaha sendiri, terkadang diperlukan kejelian melihat satu persoalan dari ragam aspek yang multidisipliner. Di awal-awal mulai, saya belum paham apa itu branding dan bagaimana membagi kerja antara pemasaran dan penjualan. Mungkin juga banyak orang di luar sana yang beranggapan bahwa strategi pemasaran adalah sekedar punya media sosial, brand online, dan iklan. Nope, it’s not as simple as that.

Dua tahun lalu, saya pernah mengikuti sebuah business course yang beda dari lain, di mana di sini saya justru lebih banyak belajar filsafat 🙂 Tapi, saya juga tidak memungkiri bahwa fondasi paling kuat dalam bisnis itu bukan manajemen, keuangan, atau penjualan, tapi visi misi si pendirinya. Visi misi beres, urusan lain pun akan cenderung lebih mudah. Ibaratnya setengah jalan udah dilewati gituu…

Nah kan, emang kampus mana coba yang menekankan pada kita soal tujuan hidup ? Kebanyakan hanya mengajarkan what dan how…. Teori begini, jawabannya begitu. That’s it. Belum lagi masalah mata kuliah sks yang dianggap udah terlalu banyak dan membebani otak mahasiswa. Ya kali, 144 sks untuk lulusan S1 di sini udah setara lulusan S2 di luar negeri bok…Alhasil, belajar bukan lagi untuk dinikmati tapi malah demi mengejar gelar biar cepet kerja #curcol

Maka, saat course itu berlangsung, saya benar-benar bisa menikmati alurnya sambil sedikit nostalgia ke masa lalu. Apa pentingnya paham nilai dan tujuan hidup? Tentu saja, nilai-nilai itu yang akan kita implementasikan dalam keseluruhan hidup, termasuk bagaimana menentukan karir yang tepat. Mau usaha sendiri atau jadi karyawan, tidak ada yang lebih keren, selain mereka yang benar-benar tahu identitas dirinya dan tujuan yang ingin dicapai ke depan.

Salah satu materi favorit saya adalah branding di mana di sinilah pasar akan menguji apakah nilai yang digaungkan dalam kampanye benar-benar hidup dalam keseharian. Kita mungkin tak asing dengan istilah NATO (No Action, Talk Only), OMDO (Omong Doang) atau yang lebih parah munafikun (ngomong di depan apa, di belakang apa) hahaha. Fenomena macam begini, pastinya akan mudah kita temui di acara televisi yang narasumbernya rata-rata politisi #huekkss

Biar kita tidak seperti politisi macam gitu, lebih baik kita cek dulu, apa sih perbedaan antara pemasaran, iklan, dan branding. Bagaimana membuat nilai-nilai yang ada dalam diri kita benar-benar hidup di perusahaan atau brand yang dirintis? Bagaimana menargetkan pasar yang tepat dan strategi komunikasinya? Berikut analogi sederhananya:

Marketing adalah tentang  bagaimana kita melihat diri sendiri

Pemasaran adalah upaya seseorang, organisasi, komunitas atau perusahaan bagaimana mereka ingin dilihat orang lain. Misalnya, bagaimana kita berbusana, warna yang dipakai, model yang dipilih. Kita semua tentu punya strategi dalam hal penampilan. Kita memilih untuk dilihat orang apakah sebagai seorang profesional, roker punk, pecandu gadget, fashionista, musisi hip hop dan lainnya.

Dengan demikian, maka kita pun tengah berupaya menunjukkan identitas melalui karakter penampilan, atribut yang dikenakan, dan nilai yang ingin ditawarkan. Tak dimungkiri, kesan pertama bakal muncul dari tampilan. Bagi bisnis, strategi pemasaran berguna untuk meyakinkan orang tentang nilai perusahaan yang dirintis. Maka, dalam strategi harus mampu menyampaikan visi dan nilai sekaligus mengekspresikannya ke publik agar mereka mampu menyadari dan terhubung dengan perusahaan.

Seberapa berhasil upaya kita “mendadani” perusahaan akan ditentukan seberapa efektif pesan dan kesan yang diterima oleh calon konsumen. Targeting dalam pemasaran sebenarnya cukup simpel yakni dengan menjabarkan poin-poin berikut:

Who:

Where:

Activities:

Problem:

Solution:

Advertisement adalah bagaimana kita beraksi di ruang publik

Jika pemasaran tentang melihat diri sendiri, maka iklan adalah bagaimana mendeskripsikannya ke orang lain. Bagaimana kita membawa diri, bicara, atau bersikap sama pentingnya dengan bagaimana kita berpenampilan. Semua ini tentu penting diperhatikan karena strategi pemasaran adalah untuk meyakinkan publik bahwa ada konsistensi antara kesan dan perilaku. Misalnya, kamu menggunakan jersey tim New England Patriot, namun saat acara Super Bowl, kamu malah merayakan kemenangan tim lain, Philadelphia Eagles. Tentunya, hal ini bisa membingungkan bukan?

Begitu pula dengan strategi iklan, jika kita salah mengeksekusi baik dari segi tempat, pesan, nada, waktu, dan audiens, hal ini tentunya akan semakin membingungkan konsumen. Iklan sendiri merupakan bagian dari perencanaan pemasaran. Aspek lain yang terkait, adalah riset pasar, media planning, public relation, brand, positioning, segmentasi, strategi penjualan, dan harga. Tujuan beriklan adalah 4D alias Dikenal, Diingat, Dipilih, dan Dibeli. Iklan idealnya bersinergi dengan aspek lainnya demi menciptakan penjualan.

Branding adalah tentang bagaimana orang lain melihat kita

Kalau marketing adalah tentang bagaimana kita ingin dilihat orang lain, sedangkan branding adalah aktualisasinya. Branding adalah tentang ikatan emosi dan pengalaman, dan bagaimana membuat pelanggan loyal.

Lewat branding, kita pun akan belajar tentang bagaimana jujur terhadap diri sendiri, menciptakan nilai yang relevan dan apakah nilai yang digaungkan selama ini benar-benar mampu terealisasi dalam kehidupan nyata. Jika tidak demikian, maka bisnis kita bisa seperti parpol kebanyakan, yang tukang bual 😀

Jadi, kalau kita nggak merasa cerewet, tapi orang lain justru melihat kita cerewet. Nah itu, berarti upaya branding kalemnya gagal total. Pasti ada yang salah 🙂

Dari sudut pandang bisnis, memahami bagaimana persepsi konsumen melihat bisnis kita keseluruhan cukup krusial untuk memutuskan strategi pemasaran dan iklan yang menarik.

Met berjuang 🙂

Diolah dari Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published.