8 Tips agar Bisnis Bertahan Saat Krisis, Cek Laporan Keuangan!

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

laporan keuangan

Sebenarnya agak telat bahas tema ini sekarang, karena merupakan bahasan setelah musim panen Ramadan dan Lebaran berakhir beberapa waktu lalu. Tapi, gak ada salahnya sih ya, mengingat perekonomian di negara ini juga lagi gonjang ganjing. Salah satu tindakan paling krusial adalah dengan mengevaluasi lebih dulu laporan keuangan.

Konon, omset banyak pelaku UKM tergerus, rupiah lemah dan dollar menggila (banyak teman-teman di bidang fesyen yang menahan beli bahan baku dan produksi di masa sekarang ini), belum lagi penurunan daya beli konsumen (terutama banget kelas mengengah bawah).

Berikut ini beberapa tips singkat agar bisnis tetap bertahan dalam situasi “krisis” yang disampaikan oleh Pak Helmi Safri dari brand busana muslimah ‘Ukhti saat Kopdar Fashion Club beberapa waktu lalu’. Salah satunya, dengan mengevaluasi segala kegiatan dan kinerja bisnis kita selama ini.

1. Evaluasi finansial perusahaan

Kalau anda pernah mendengar istilah “Cash is the King”, saya jamin 1000% memang benar-benar penting deh, hehe….Selama ini, para pelaku usaha memang sering memperdebatkan, lebih penting mana antara kas dan keuntungan penjualan? Nyatanya, kalau kondisi kas pas-pasan, bahkan habis, memangnya produksi masih bisa berjalan? Faktor ketiadaan kas, di antaranya disebabkan oleh penumpukan barang stok atau piutang.

2. Aliran kas (cash flow)

Melanjutkan poin di atas, Pak Helmi menyarankan, hal pertama yang harus dilakukan saat kondisi seperti ini, adalah evaluasi aliran kas di antaranya, kas masuk (dalam bentuk penjualan), dan kas keluar (biaya-biaya yang harus dikeluarkan). Hitung semua komponen dalam bisnis seperti: berapa produksi?, berapa angka penjualan?, berapa biaya yang harus keluar (biaya tetap+variabel), dan strategi penjualan?

Dengan demikian, anda akan memiliki gambaran nyata dan perhitungan lebih tepat paling tidak untuk meminimalisasi kerugian akibat penumpukan stok dan penjualan yang lesu. Hmm, manajemen cash flow ini memang selalu bikin puyeng 7 keliling 😀

3. Aset produktif vs non produktif

Stok barang menumpuk? Penjualan tersendat? Kas menipis? Apa yang akan anda lakukan? Mulailah mencari aset-aset yang anda punya untuk dijual atau digadai. Jangan ragu untuk mengorbankan sementara aset-aset yang kurang produktif, misalnya saja anda punya dua motor atau kendaraan tak terpakai, tak ada salahnya untuk diputar lagi menjadi aset agar kegiatan produksi bisa tetap berjalan.

4. Kendalikan biaya-biaya

Selain melakukan upaya di atas, anda juga perlu melakukan penghematan atau pengendalian terhadap berbagai biaya-biaya. Upayakan untuk menekan semua pengeluaran yang tidak terlalu penting. Misalnya, mengurangi biaya iklan untuk dialihkan pada pengembangan produk baru atau berkolaborasi dengan brand atau bisnis lain yang cukup menguntungkan. Intinya, terus cari cara agar kas tetap selamat. Yang lebih penting lagi, adalah mengurangi belanja untuk kebutuhan gaya hidup yang tidak terlalu penting, misalnya liburan, atau membeli kendaraan baru.

5. Giat Melakukan Promo

Mungkinkah di tengah ekonomi yang lesu seperti saat ini, melakukan promosi gencar? Bagaimana jika penjualan tak sesuai harapan, sementara uang sudah terlalu banyak keluar? Pak Helmi memberikan salah satu contoh di mana Sido Muncul rela mengalokasikan dana puluhan miliar hanya untuk menjadikan petinju kelas dunia asal Filipina Pacquiao sebagai bintang iklan. Menurut sang CEO Irwan Hidayat, langkah yang diambil itu mungkin memang tak berdampak pada penjualan sekarang, tapi NANTI. Okay, karena beliau punya kas banyak 🙂 Tapi, untuk pelaku UKM, kita patut mengukur kemampuan diri sebelum berpromosi atau iklan.

6. Komunikasi dengan pengusaha lain

Sebagai pekerja mandiri, tentu tidak mudah ya, menjalankan segala sesuatunya sendirian aja, apalagi di tengah situasi sulit. Di sini lah perlunya berkomunitas dan menjalin networking dengan pengusaha lain. Bukan hanya untuk ajang curhat, tapi juga berbagi informasi, dan knowledge.

7. Minta bantuan pihak ke-3 (profesional)

Di saat kita sudah tak mampu lagi mengatasi kondisi bisnis yang terpuruk, tentu saja kita bisa mengambil opsi ini yakni, minta bantuan orang-orang profesional untuk jalan keluar. Mahal? Udah pasti:D. Tapi, buat pelaku UKM yang dananya terbatas selalu ada jalan kok..hehe

8. Berdoa dan yakin

Last but not least, tetap konsisten mempertahankan usaha, sambil berdoa, dan yakin. Iyalah, kecuali kalau kita udah gak niat lagi jalanin-nya. Ukhti bukan brand busana muslim yang besar seketika, saya pernah mendengar cerita ketika brand ini terlilit utang beberapa tahun lalu, dari utang miliaran sampai akhirnya mendiskon semua barang hingga 70 persen (lupa tepatnya berapa ratus pcs saat itu). Hasil penjualan produk-produk diskon inilah yang pada akhirnya bisa melunasi utang perbankan sedikit demi sedikit, dan brand ini mulai bangkit kembali seperti sekarang punya ratusan agen dan reseller.

So, keep up the good work is the answer now 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.