6 Tips Menulis dan Storytelling ala Stan Lee

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

stan lee
sumber: saccurent.com

-“Stories are remembered up 22% than fact”-

 

Hal itu dikemukakan oleh psikolog sosial sekaligus Profesor Marketing di Stanford Graduate School of Business, Jennifer Aaker. Menurutnya, untuk bisa terhubung dengan audiens kita perlu bercerita. Di era bisnis digital seperti sekarang, cerita menjadi komponen penting lantaran rata-rata manusia mengambil keputusan secara emosional, lalu menggunakan logikanya untuk membenarkan.

Bicara storytelling, kita tidak akan lepas dari kegiatan menulis dan sosok kreator di baliknya. Tulisan atau naskah menjadi fondasi untuk membangun sebuah storyline. Tak terkecuali, bagi salah satu perusahaan media dan hiburan bergengsi sejagat raya, Disney yang selalu mengandalkan ide-ide segar dalam mengemas cerita. Pada Agustus 2009, Disney resmi mengakuisisi Marvel Entertainment senilai 4,24 miliar dolar.

Mereka pun semakin produktif mengangkat kisah banyak karakter fiksi legendaris ke layar lebar. Film-film superhero Marvel juga menjadi tambang emas bagi Disney, membuat perusahaan tersebut memiliki 10 film top dengan pendapatan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satunya yang masih hangat, tentu saja dengan rilisnya Avengers: Endgame beberapa pekan lalu, yang ditargetkan mampu menggeser Avatar sebagai film terlaris sepanjang masa. Inilah industri yang menjual imajinasi bernilai miliaran dolar. Apa kunci sukses dibalik bisnis cerita hiburan?

Sebelum kematiannya, Stan Lee yang merupakan penulis karakter fiksi superhero Marvel sempat membagikan wejangan kepada calon penulis dan storyteller melalui sebuah video Youtube. Sejak 1960-an berkolaborasi dengan co writer/artist Jack Kirby dan Steve Ditko, Lee menciptakan beberapa karakter fiksi superhero populer, seperti Spider Man, Iron Man, Thor, Hulk, Ant-Man, Black Panther, Fantastic Four dan lainnya.

Berikut adalah beberapa pandangan Lee tentang dunia menulis dan bisnis hiburan di mana bisa kita terapkan juga di bisnis masing-masing dalam menciptakan konten yang tepat untuk audiens:

1. Banyak baca, jangan lupakan kisah klasik!

 

stan lee
sumber: instagram.com/marvelstudios

Stan Lee mengaku sangat menyukai karakter fiksi Sherlock Holmes. Mempelajari kisah klasik artinya mempelajari warisan budaya sebagai penulis. Kita akan melihat evolusi seorang pencerita, dan lihat bagaimana pekerjaan yang baik mampu mentransformasi tulisan menjadi seni mengagumkan. Membaca dengan konsisten beragam majalah komik adalah satu-satunya cara bagaimana kreator mengembangkan “rasa” tentang seperti apa komik yang bagus itu.

Lalu, kita bisa mengevaluasi, “kenapa kita menyukai ini? “Kenapa kita tidak suka itu? “Apa kualitas yang dimiliki cerita ini, sehingga saya jadi suka?  Setelah itu, coba lihat hasil karya tulis kita sendiri, “apakah ini benar-benar menarik? “Atau saya hanya sekedar menaruh banyak kata di kertas? “Apakah saya sendiri mau membacanya?”  Semakin banyak baca dan referensi, maka semakin baik kita menjadi pencerita.

 2. Ragu terhadap diri sendiri itu normal (tetaplah bekerja)

 

stan lee
sumber: reddit

Keraguan adalah kawan abadi bagi kreator mana pun. Hal itu bisa menjadi perasaan yang melemahkan, namun ada kelegaan saat menyadari bahwa setiap seniman yang kita kagumi terkadang juga berupaya “menyembunyikan” rasa ragu. Ketika kita membaca karya mereka, lihatlah mereka pun selalu menemukan jalan untuk tetap menulis.

Di awal karir sebelum The Fantastic Four, saya sangat berjuang. Saya pernah merasa tidak akan kemana-mana. Saya juga sempat merasa malu, bahwa menulis komik merupakan pendapatan utama hidup sehari-hari,”ujarnya. Lee juga mengaku, bahwa ia ingin sekali sukses seperti orang-orang yang ia lihat, Steven Spielberg, Harlan Ellison, atau bahkan Hugh Hefner.

3. Jangan remehkan “hiburan”

 

stan lee
sumber: instagram.com/therealstanlee

Perasaan lain yang dapat membuat seorang kreator gagal mencapai impiannya adalah kurangnya keyakinan atas tujuan kecil dan sederhana, misalnya menghibur pembaca. Banyak penulis ingin mencapai tujuan besar di setiap bagiannya, seperti mengubah pikiran, mengedukasi orang, mengeksplor ragam bentuk dan mengubahnya lebih baik.

Tentu semua itu adalah tujuan hebat, namun tidak esensial dalam storytelling. Menghibur adalah adalah aspek inti dari menulis. Lewat karakter dan konflik yang tajam, pembaca bisa merasakan banyak hal dalam satu waktu, misalnya takut,  penasaran,  bahkan marah dan terkejut sekaligus rasa nikmat saat mengikuti alur cerita.

Maka, kita perlu menghibur dulu sebelum ingin melakukan tujuan-tujuan ambisius. Hiburan adalah pintu masuk komunikasi yang efektif. “Saya dulu malu jadi penulis komik, sementara orang lain punya karir mapan, seperti dokter.” Lalu saya sadar bahwa hiburan adalah hal penting dalam hidup manusia. Jika kamu bisa menghibur orang, maka kamu telah melakukan hal baik,”kata Lee.

4. Semua seni itu politis

 

stan lee
sumber: instagram.com/therealstanlee

Bukan berarti karena menghargai hiburan, lantas kita tidak punya pesan untuk disampaikan. Biarkan dunia nyata memengaruhi tulisan kita, tapi jangan biarkan mereka mendikte cerita. Pada dasarnya, semua seni adalah produk cara pandang, di mana perspektif tersebut dikomunikasikan lewat dialog.

Sebagai penulis, tentu saja kita tidak bisa membuang serta merta sebuah perspektif. Kamu bisa mencobanya, tapi pada titik tertentu cerita itu bisa terkubur begitu saja. Lee menganjurkan agar kita bisa merangkul “pesan” dalam sebuah cerita dan menyampaikannya dengan cara memikat dan bermoral.

Dari waktu ke waktu, Lee mengatakan ada saja surat dari pembaca yang merasa heran mengapa begitu banyak pesan moral dalam majalah komik. Mereka merasa bahwa komik seharusnya menjadi bacaan yang membuat mereka terhibur dan tak lebih. Namun kadang, menurut Lee, dirinya tidak melihat begitu.

Cerita tanpa pesan, ibarat manusia tanpa jiwa. Bahkan, cerita dongeng saja punya sudut pandang moral dan filosofis. Tidak ada dari kita hidup dalam kekosongan, tidak ada dari kita hidup tanpa tersentuh kejadian. Apa pun kejadian akan membentuk cerita, seperti halnya cerita membentuk hidup kita,”katanya.

5. Tulis apa yang ingin kamu baca

 

stan lee
sumber: instagram.com/therealstanlee

“Jika kamu ingin menulis sesuatu yang menyenangkan bagi diri sendiri, jadilah otentik,”kata Lee dalam sebuah video. Seni adalah tindakan komunikasi. Sebuah pesan dari penulis untuk pembaca. Menghargai hiburan sekaligus tulisan yang ingin kita baca merupakan perangkat untuk membuat cerita lebih menarik bagi orang-orang yang menginginkannya. Melahirkan ide adalah hal termudah di dunia. Semua orang punya ide. Namun, mentransformasi sebuah ide menjadi sesuatu yang direspon banyak orang, itu sulit.

Tak lupa, Lee merupakan seorang penulis profesional yang tak main-main soal komitmennya terhadap deadline. Baginya, tidak ada waktu menunggu inspirasi datang. “Saya tidak punya inspirasi. Saya hanya punya ide. Ide dan deadline,”ujarnya.

6. Temukan karakter utama dan kekuatan drama

 

stan lee
sumber: instagram.com/therealstanlee

Last but not least, karakter dan konflik menjadi komponen paling penting dalam sebuah cerita. Stan Lee mengingatkan bahwa karakter yang kita ciptakan mungkin saja akan serupa dengan yang sudah ada, namun tetap fokus untuk menemukan apa yang membuat karakter itu beda dengan yang lain.

Misalnya, kamu ingin buat karakter pengacara, maka bisa saja tokoh itu dibuat buta menggunakan jubah ala vampir dan siap memburu siapa pun yang melanggar keadilan.

Sementara, karakter pahlawan dan antagonis dibuat sedemikian rupa agar cerita tersebut lebih hidup. Bangun konflik di antara mereka, apa yang diinginkan si pahlawan dan apa yang diinginkan si antagonis.

Baca juga: Antara Coldplay, Stephenie Meyer, dan Covert Selling

====

 

Diolah dari sumber: devianart/writersdigest/standoutbooks/pocketbook.co.uk

Leave a Reply

Your email address will not be published.