5 Tahapan Menulis Kalimat Iklan yang Mendatangkan Penjualan

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Perkembangan industri berbasis internet belakangan tahun terakhir, tentunya turut mengerek popularitas profesi copywriter alias pembuat kalimat iklan. Seiring pertumbuhan pengguna media sosial pula, peluang ini pun tak disia-siakan oleh mereka yang ingin memulai usaha secara online. Sayangnya bagi pengusaha kecil, menggunakan jasa advertising agency tak selalu bisa dilakukan lantaran dibutuhkan anggaran yang cukup besar.

Solusinya, mereka pun harus belajar sendiri bagaimana caranya membuat orang tertarik untuk membeli produk atau jasa hanya lewat penawaran online.  Namun, untuk membuat kalimat iklan yang memikat bahkan mendatangkan penjualan dibutuhkan kemampuan common sense terhadap kebutuhan target audiensnya.

Berikut adalah tahapan membuat kalimat iklan memikat  yang saya rangkum dari buku atau tokoh-tokoh yang pernah jadi narasumber. Salah satunya adalah menggunakan formula penulisan ala praktisi hypnotic writing Joe Vitale.

1. Menentukan tujuan

Layaknya menjalankan sebuah kampanye pemasaran, menentukan tujuan dalam menulis juga penting agar polanya lebih terstruktur. Kalau menulis berita, polanya adalah 5W+1 H, sementara jika menulis iklan cenderung lebih bebas. Ada baiknya, kita menuliskan poin-poin idenya satu per satu. Dengan perencanaan yang baik, maka hasilnya pun bisa lebih mudah diukur. Semua orang mungkin bisa menulis, tapi tidak semua orang bisa menulis copy yang mendatangkan penjualan bukan?

2. Riset

Hal penting yang harus diketahui seorang copywriter adalah mengenali audiens-nya alias tahu dengan siapa bicara. Maka itu, persona adalah fondasi penting dalam menulis iklan penawaran. Kita bisa pakai teori komunikasi jaman old  (1950-an) dari Wilbur Schramm yakni, experience (pengalaman) dan preference (selera).

Selain mengenal target audiens, pelajari juga produk atau jasa yang ditawarkan. Bekerjalah layaknya seorang jurnalis, cari sudut pandang baru untuk dijadikan lead dalam penawaran. Ada contoh menarik soal mencari sudut pandang dalam beriklan. Narasumber yang saya temui, pernah cerita bahwa temannya mengiklankan krim pemutih dengan menarget orang-orang yang naik motor.

Jika biasanya iklan produk pemutih mengambil angle yang mirip-mirip, seperti before after, tambah cantik, dan bla bla..bla, kali ini dia mengambil angle “menghindari kulit belang” dalam penawarannya. Keren dan mungkin nggak kepikiran banyak orang, hasilnya efektif banget he..he…he

3. Kreasi

Kreasi berarti saatnya memproduksi sebuah copy. Dalam industri kreatif, proses brainstorming sangat penting. Kumpulkan ide-ide dan inspirasi dari banyak hal, misalnya film, lagu, tren berita, pengalaman pribadi atau lingkungan sekitar. Menurut praktisi periklanan Budiman Hakim, ide itu bisa muncul dari mana saja, hanya butuh kepekaan lebih untuk mengemasnya menjadi sesuatu yang kreatif.

Setelah mendapat ide dan temuan riset, kombinasikan menjadi tulisan dalam bentuk draft. Jangan pernah berhenti menulis. Kalau merasa ada yang kurang pas, toh nanti-nanti bisa diedit. Mengumpulkan ide di satu folder komputer juga bisa, cuma kalau saya pribadi lebih suka orat oret langsung di buku catatan sih. Nanti, kalau udah mau bikin kampanye, baru tinggal dipilih mau pake copy yang mana 😉

4. Menuliskan kembali (rewrite)

Rewrite atau menuliskan kembali artinya tidak ada penulis yang hebat, yang ada hanya rewriter yang hebat. Penulis novel terkenal Stephen King pernah bilang, buatlah 10 copy tulisan singkat, lalu bagikan ke orang-orang (bukan teman atau saudara). Minta feedback tulisan mana yang paling mereka sukai. Tulisan dianjurkan menggunakan kalimat aktif, karena kalimat pasif cenderung membosankan. Buatlah dalam sebuah draft, edit, edit, edit, hingga sudah terasa cukup memikat. Jangan segan untuk melakukan revisi konsep.

5. Menjalankan kampanye (Test)

Testing artinya kita memang tidak cukup pintar untuk mengetahui apa yang orang mau. Biar udah merasa menulis copy keren pun, kalau nggak pernah dijalanin jadi iklan, yah kita nggak akan tahu efektivitas-nya gimana.

Kalau di Facebook Ads itu ada istilah split testing, jadi kalau CTR (click through rate) alias engagement dan jumlah klik rendah, perlu dikoreksi apakah ad copy dan image-nya sudah cukup menarik?

Seberapa jago kita membuat penawaran, nanti akan terbukti seberapa banyak orang yang akan melakukan kontak dari jumlah orang yang melihat iklan kita. Semakin tinggi persentase-nya, berarti semakin efektif kampanye kita  🙂

Udah gitu aja, selamat berkreasi yah he..he..he

Leave a Reply

Your email address will not be published.