5 Cara Membangun Tim Kreatif Organisasi

tim desain
sumber: puma

Di zaman sekarang, perusahaan mana yang tak butuh tim kreatif. Jika saat ini, semua orang adalah media, maka tak ada alasan lagi untuk mengabaikannya. Berdasarkan data terakhir Nielsen, rata-rata orang Amerika menghabiskan lebih dari 11 jam di depan layar.

Data ini mungkin tak jauh beda dengan di negeri kita. Maka, poin utama antara kita dan calon klien lebih didominasi oleh digital. Dalam konteks ini, desain menjadi pembeda utama dalam memenangi “hati dan pikiran” audiens.

Studi terbaru dari InVision menemukan bahwa organisasi yang menguasai desain mampu menghasilkan usabilitas produk dan kepuasan pelanggan lebih baik. Data tersebut diperoleh dari lebih 2200 organisasi di seluruh dunia, dari mulai ukm, non profit, hingga korporasi Fortune 500.

Tiap organisasi itu ditanya tentang perilaku spesifik tim desain mereka, dan hasil yang diperoleh. Tujuannya menemukan proses apa yang memisahkan organisasi yang mempraktikkan desain dengan yang benar-benar menggunakannya sebagai diferensiasi kunci.

InVision mengidentifikasi 5 level kematangan desain, di mana level 1 punya kematangan yang rendah dan level 5 punya kematangan maksimal. Karakterisasi 5 level desain tersebut ditandai dengan keuntungan yang didapat lewat pemanfaatan desain itu sendiri.

Sebanyak 92 persen organisasi yang berada di level 5 mampu menyelaraskan antara upaya tim desain dan pendapatan organisasi. Sedangkan, 85 persen organisasi mengatakan, mereka mampu menghemat biaya lewat desain, dan 84 persen lagi mengatakan, desain telah meningkatkan akses ke pasar.

Organisasi yang menyadari pentingnya desain dalam menunjang keuntungan bisnis, mereka pun mempraktikkan lima hal berikut:

Mengangkat pimpinan desain berpengalaman

Membangun tim praktisi desain merupakan langkah awal membangun praktik desain sukses. Maka, keberadaan seorang pimpinan yang mampu menciptakan dan berbagi visi sangat dibutuhkan untuk menginspirasi tim sekaligus mengajukan karya ke level eksekutif. Hampir dua per tiga organisasi di level 5 berdasarkan studi InVision punya tim yang dipimpin oleh seorang direktur di mana punya pengaruh besar di level eksekutif, lebih mampu tanggung jawab, sekaligus mudah menjalin relasi dengan pimpinan divisi lain. Artinya, semakin senior seorang pimpinan desain, makin besar pula dampak untuk tim di bawahnya.

Bebas bekreasi

Bebas bekreasi bukan berarti bertindak suka-suka tanpa aturan, namun yang dimaksud “bebas” di sini adalah tiap individu dalam tim, digali kemampuannya untuk ikut menyelesaikan masalah dan mengajukan ide-ide segar. Berdasarkan studi, perbandingan organisasi di level 1 dan level 5 terletak pada seberapa jauh keterlibatan pimpinan divisi desain itu dalam pengambilan keputusan strategis.

Mereka juga 4x lebih banyak terlibat dalam pengembangan produk-produk kunci bersama rekanan. Contohnya saja Netflix, yang memberi otonomi bagi tiap karyawannya, khususnya divisi desain. Tiap desainer produk diberi keleluasaan untuk menanyakan status quo dan mencari cara baru untuk menumbuhkan usaha.

Melakukan banyak eksperimen

Studi juga menemukan jika organisasi di level 5 kerap melakukan eksperimen. Misalnya, desain UX, mereka turut mengundang konsumen demi kepentingan riset dan menguji keterlibatan mereka dengan produk tersebut. Tak cuma itu, organisasi yang mapan ini juga biasanya memiliki standar prosedur untuk mengukur tingkat kesuksesan eksperimen, yang pada akhirnya akan berdampak pada bisnis itu sendiri.

Misalnya, tim desain perusahaan ritel fesyen Gap Inc, kerap mengundang para karyawan dari Gapateria (kafe yang berada di kantor pusat), untuk menjalankan tes cepat terkait konsep sebelum melakukan tes formal dan eksperimen di online maupun toko ritel.

Bagi organisasi level 5, eksperimen menjadi norma dalam proses desain, di mana hasilnya desain tersebut 4x lebih punya dampak positif bagi pendapatan, 5x lebih menghemat biaya, dan 6x lebih mengurangi waktu mereka di pasar.

Punya mekanisme pengukuran

Menyusun ROI (return on investment) dalam bidang desain kreatif agaknya memang sulit dikuantifikasi, namun organisasi level 5 ternyata punya standar pengukuran dan indikator spesifik, seperti Net Promoter Score (NPS) demi mendapat feedback pelanggan. Misalnya saja, perusahaan asuransi USAA, telah mengembangkan desain scorecard yang cukup detil dari mulai keterlibatan dengan divisi compliance dan hukum hingga desain.

Menciptakan standar holistik

Banyak organisasi punya satu atau dua area di mana tim desain akan mencapai fungsinya yang paling tinggi. Namun, organisasi dengan level tim kreatif yang matang cenderung menciptakan standar holistik seerti, budaya desain koheren meliputi praktik, prinsip, kualitas standar, dan peralatan yang memungkinkan desain mencapai skala nilai organisasi. Kunci indikatornya meliputi:

-Apakah orang di luar di tim desain akan berpartisipasi aktif dalam proses desain itu sendiri?

-Apakah mereka punya kerap berinteraksi dengan tim desain>

-Apakah interaksi tersebut substantif?

Namun, meski kerja sama antar divisi merupakan awal yang baik, rekanan kunci terkait pengembangan produk harus secara aktif bekerja bersama desainer demi membangun persyaratan standar, prioritas, serta mencapai misi. Contohnya saja di Google, hubungan antar disiplin /divisi dipandang sebagai partnership, di mana akuntabilitas dari pekerjaan desain sendiri ditanggung sepenuhnya oleh tim produk dan desain.

==

Mempekerjakan desainer tanpa meletakkan standar, akan sia-sia. Dengan adanya rekrutmen baru, maka timbul pula ide palet warna baru, tipografi, bahkan pola pada produk yang akhirnya menimbulkan inkonsistensi dan pembengkakan biaya. Kesimpulan dari studi tersebut menunjukkan, desain bisa menjadi business driver organisasi dan menjadi hal yang luar biasa, bila terjadi kolaborasi yang menggali potensi bersama.

Sumber: uxpin/medium

Leave a Reply

Your email address will not be published.