4 Formula Hidup Kaya dan Bahagia

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Tak berlebihan mungkin jika ada peribahasa cukup terkenal “Muda foya-foya, Tua kaya raya, Mati masuk surga” menjadi semacam slogan banyak orang muda untuk menjalani hidup semacam itu. Meski hanya sebuah ungkapan, nyatanya dalam kehidupan ini memang ada tiga tipe kekayaan yang idealnya mesti dicapai para insan di bumi agar lebih bahagia 🙂

Di antaranya, kekayaan finansial, kekayaan intelektual, dan kekayaan spiritual. Dengan menggapai semua jenis kekayaan itu, hidup pun tak sekedar bergelimang harta, tapi juga bahagia lahir batin. Kekayaan finansial, berdasarkan HNWI (High Net Worth Individual), seseorang bisa disebut miliarder jika memiliki aset di luar (rumah utama yang ditinggali) senilai minimal Rp10 miliar.

Sedangkan, kekayaan intelektual, merupakan aset berupa ilmu dan keterampilan. Makanya, Tung Desem Waringin sering banget kan memotivasi orang untuk ikut seminar-seminar yang harganya puluhan juta itu dengan landasan investasi leher ke atas. Jenis investasi leher ke atas dinilai lebih penting dari sekedar investasi materi semata. Dengan ilmu dan wawasan yang baik, seseorang akan mampu memutuskan segala hal dalam kehidupannya lebih terukur.

Ketiga, kekayaan spiritual merupakan bentuk kekayaan yang dimiliki hati dan jiwa. Toh, seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa tinggi jabatan kita di dunia, seberapa banyak kita dikelilingi orang-orang tercinta, pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan. Dalam Islam sendiri, ketika orang itu meninggal dunia, hanya ada 3 amalan yang tak akan putus pahalanya, yakni ilmu bermanfaat, sedekah jariyah, dan doa anak saleh. Maka, tak heran jika konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient) begitu memikat di Tanah Air sejak puluhan tahun lalu.

Kenapa? Karena, kini makin banyak orang sadar bahwa kecerdasan intelektual dan emosi tidak ada apa-apanya tanpa kecerdasan spiritual. Tentu, kita banyak melihat orang-orang kaya dan populer harus mengakhiri hidupnya secara tragis alias bunuh diri. Maka, bahagia memang tak cukup hanya sekedar diukur dari berapa banyak materi yang dimiliki seseorang.

Selain ketiga jenis kekayaan itu, ada juga kekayaan sosial di mana penelitian Harvard Unversity selama 79 tahun mengemukakan, jika kebahagiaan itu juga turut dikontribusikan seberapa kita memiliki hubungan yang sehat dengan orang-orang terdekat. Koneksi sosial bisa membuat seseorang lebih bahagia dan tubuh lebih sehat, sedangkan kesepian akan membunuh kita.

kaya
sumber pixabay

Kembali lagi pada pola pikir materi, dalam perspektif sosiologis tentang kemiskinan, ada dua kerangka berpikir penyebab mengapa seseorang bisa miskin. Dilansir enotes, pertama, pandangan kaum liberal di mana kemiskinan merupakan produk dari kegagalan sistem pemerintah/negara menyediakan sumber atau alat-alat bagi warganya agar berhasil keluar dari kemiskinan.

Kedua, pandangan kaum konservatif, sebaliknya justru melihat kemiskinan sebagai hasil dari perilaku individunya sendiri yang gagal mengakses atau mengambil peluang sumber-sumber daya yang ada untuk keluar dari kemiskinan.

Tentu saja, karena kita tidak tinggal di negara yang sedang mengalami konflik hebat atau perang, maka pandangan kaum konservatif lebih rasional menjelaskan mengapa di negara ini masih banyak orang miskin.

Dengan kondisi perekonomian yang sudah jauh lebih baik dari awal-awal kemerdekaan RI, tentu siapa saja bisa memiliki peluang untuk memperbaiki kehidupannya. Namun, orang-orang dengan cara berpikir yang sempit kerap melihat segalanya sebagai “keberuntungan”.

Padahal, keberuntungan merupakan sesuatu yang diciptakan bukan sekedar jatuh dari langit. Berikut adalah formula menciptakan keberuntungan itu:

1. Persiapan

kaya
sumber: pixabay

Bekerjalah seminim-minimnya, mendapat keuntungan sebesar-besarnya, dalam tempo sesingkat-singkatnya sesunguhnya adalah impian segala insan.. he..he. Dalam tahapan ini, justru pola pikir ini harus mulai ditinggalkan, karena memang tidak ada hasil instan. Pengembangan diri bisa dilakukan sedikit demi sedikit setiap harinya. Misalnya, hanya membaca 2-3 buku tentang topik spesifik bisa membuat kita lebih baik dari 90 persen orang di luar sana yang tak pernah baca sama sekali. Bisa dibayangkan, jika rutinitas yang baik itu dilakukan tiap hari, maka dalam setahun sudah berapa banyak halaman yang kita serap ilmunya?

2. Sikap

bahagia
sumber: pixabay

Sikap merupakan penentu apakah seseorang bisa beranjak dari satu tempat ke tempat lain yang ingin dituju. Tentu saja, ada dua tipe orang dengan pola pikir berbeda. Pertama, orang dengan pola pikir sempit. Orang-orang ini berpikir bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas situasi sekarang. Bagi mereka, masalah selalu berasal dari eksternal, misalnya saya tidak bisa bekerja karena sudah tua, ekonomi sedang buruk, dan lainnya.

Kedua, tentu saja adalah kebalikannya, orang dengan pola pikir kaya. Mereka merasa bertanggung jawab atas setiap langkah yang diambil dalam hidupnya. Misalnya saja, jika ingin bekerja atau memulai usaha, mereka akan melakukan apa pun yang dibutuhkan. Artinya, mereka sadar jika ingin hidup berubah, harus menyiapkan sesuatu yang tidak disiapkan orang lain.

3. Peluang

bahagia
sumber: pixabay

Jika formula 1 dan 2 di atas sudah benar-benar dipahami, maka berikutnya adalah belajar jeli melihat peluang. Sebetulnya, banyak peluang besar ada di sekitar kita, namun kerap kali lantran tak punya sikap yang tepat, kita selalu kehilangan momentum. Seperti yang sudah disebut sebelumnya, orang-orang dengan cara pikir sempit selalu fokus pada sisi negatif. Mereka bahkan tidak paham apakah peluang itu baik atau buruk karena tidak cukup melakukan pengembangan diri. Sedangkan, pola pikir kaya selalu melihat sisi negatif dan positif bisa terjadi bersamaan. Namun, mereka cenderung memiliki sisi positif, sehingga mereka benar-benar mampu melihat peluang.

4. Bertindak

bahagia
sumber: pixabay

Bagian paling penting dari seluruhnya adalah bertindak. Banyak orang sudah punya ilmu atau wawasan tapi tidak pernah action. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu:

“Saya terlalu sibuk sekarang”

“Saya nggak punya uang”

“Saya tidak cukup berpendidikan”

“Ini bukan waktu yang tepat”

Padahal, memang tidak akan pernah ada waktu sempurna, selain kita-lah yang harus menciptakannya sendiri. Beberapa alasan itu mungkin memang kenyataan, tapi itu adalah masalah kita sendiri, bukan orang lain 🙂 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.