10 Ide Jitu Berpromosi untuk Lejitkan Omset

Banner : Pelajaran Online 1,5 tahun

Jika bicara soal penjualan, maka suka atau tidak kita harus berhadapan dengan strategi funneling yang jamaknya terdiri dari lead, prospek, dan customer. Seperti yang sudah sering dibahas sebelumnya, promosi sendiri merupakan salah satu unsur penting dalam pemasaran untuk menggaet banyak prospek hingga akhirnya menjadi pembeli  yang berimbas pada naiknya penjualan dan omset.

Secara umum , promosi yang terintegrasi biasa dibagi dalam dua bagian strategi, seperti Above The Line (ATL) atau push marketing (iklan surat kabar, majalah, feature, artikel, press release) dan Below The Line (BTL) atau pull marketing (event promo, pameran, sponsor, trade promo, diskon, bonus, hadiah). Sedangkan online strategy terbagi dalam dua bagian, yakni (inbound), media sosial, content marketing, SEO serta (outbound), SEM, Email marketing, WA Blast dan lainnya.

Sebelum melakukan promosi, idealnya pemasar juga harus menentukan tujuan dari kegiatan promosi itu sendiri (4D), misalnya, ingin dikenal, diingat, dipilih, atau dibeli. Baca juga: Strategi Promosi Efektif Berbiaya Rendah

Berikut adalah 10 ide jitu berpromosi yang bisa diterapkan di usaha kita. Beda sektor, tentu beda pula strategi dalam melakukan promosi. Kita bisa menentukan mana sekiranya yang paling cocok bagi brand1.1

  1. Advertorial

Promosi bentuk advertorial ini biasanya sering kita lihat di koran, majalah, dan media online. Advertorial biasa disajikan layaknya editorial, seperti artikel yang isinya bisa berupa tips, atau hal-hal yang lebih menonjolkan benefit untuk konsumen dengan dikombinasi informasi produk. Advertorial memang merupakan salah satu strategi promosi yang mengedepankan soft selling.

 

  1. Kupon/voucher

Salah satu jenis promosi yang cukup sering digunakan penjual adalah pemberian kupon atau voucher. Bentuknya pun bisa bermacam, misalnya ada yang dalam bentuk potongan harga untuk pembelian selanjutnya di toko yang sama, untuk pembelian produk tertentu, atau untuk belanja di supermarket tertentu. Selain bisa meningkatkan volume penjualan, konsumen pun akan merasa senang.

 

  1. Bonus

Cara ini juga kerap diterapkan para pemasar ritel, khususnya produk kebutuhan rumah tangga. Misalnya, di supermarket mungkin kita sering melihat membeli kopi mendapat gelas, atau membeli sabun cuci piring mendapat bonus piring. Meskipun nilai bonusnya tak seberapa, nyatanya teknik ini bisa menarik perhatian konsumen, terutama bagi para ibu rumah tangga.

 

  1. Kolaborasi

Cara ini sudah mulai jamak dilakukan banyak brand di era sharing economy seperti sekarang. Ketika dua brand berkolaborasi, maka brand mereka otomatis akan dikenalkan juga ke target pasar partner. Contohnya saja, kerja sama antara label pakaian This is April dengan sebuah tour company ke Maldives, atau label Oline Workrobe dengan illustrator Diela Maharani. Tak mesti sesama brand, bisa juga antar brand dan artis/influencer, contohnya label Cotton Ink dan Raisa atau I.K.Y.K dan Tatjana Saphira.

 

  1. Customer’s Birthday

Tak bisa dimungkiri, jika momentum ulang tahun masih dianggap spesial bagi sebagian besar orang. Seiring dengan ketatnya persaingan, banyak pula perusahaan yang berupaya memberi hadiah ulang tahun, misalnya kalau di industri perbankan, nasabah prioritas yang ulang tahun akan diberikan kue spesial. Tak hanya industri keuangan, restoran steak Holycow juga pernah menerapkan cara sama yakni, dengan mengundang konsumen yang ulang tahun makan gratis di outlet mereka.

 

  1. Gathering

Mengumpulkan orang-orang yang memiliki ketertarikan sama bisa menjadi salah satu cara jitu untuk melakukan promosi. Misalnya, L’Oreal yang mengumpulkan para hairdresser dalam sebuah event untuk mempromosikan produknya atau jasa pengiriman RPX yang kerap mengadakan workshop tentang bisnis online dan sejenisnya. Keunggulan gathering, selain lebih mengeratkan hubungan antara brand dan konsumen, juga membuat penjualan lebih cepat ke target konsumen.

 

  1. Free Ongkir

Belakangan tahun terakhir, Shopee sebagai salah satu marketplace di Indonesia begitu cepat naik popularitasnya lantaran dikenal dengan promo free ongkirnya yang digemari para pelanggan, terutama dari luar pulau Jawa. Ya, segala sesuatu yang terdengar “gratis” memang digemari konsumen Indonesia. Namun, pastikan sebagai pemasar, bahwa produk yang dikirim ukurannya ringan, mudah didistribusikan dan ada baiknya buat kartu keanggotaan kepada agen kurir jika memungkinkan untuk mendapat potongan harga.

  1. Flash Sale

Flash sale alias menjual murah secepat kilat sudah sangat jamak dilakukan para pemasar online. Dengan jargonnya, “Siapa Cepat, Dia Dapat”, para calon konsumen pun seolah akan merasa terdesak untuk segera memilik produk itu sebelum ludes terjual. Cara ini sempat dipopulerkan oleh Lazada saat menjual produk Xiaomi Redmi 1S. Praktis saja, produk Xiaomi langsung habis terjual hanya dalam hitungan jam.

Untuk para pebisnis online lainnya, cara Flash sale juga kerap dimanfaatkan untuk menghabiskan stok produk sisa. Biasanya, para calon konsumen akan diundang ke grup whatsapp untuk mengikuti program Flash sale yang biasanya digelar dalam waktu beberapa jam saja

9. Free Trial

Cara ini bisa dengan memberi sampel atau fasilitas percobaan untuk membuktikan performa sebuah layanan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, perusahaan F&B biasa memberikan sample gratis makanan/minuman ringan, jasa les atau kursus, atau layanan lainnya, seperti toko online atau aplikasi.

Contoh yang cukup ekstrem, adalah pengadaan program 1000 piring nasgor bayar pakai doa, saat pembukaan pertama kali resto Nasi Goreng Mafia. Salah satu pendirinya, Rex Marindo saat itu bercerita, jika ide promosi tersebut jauh lebih murah dibandingkan memasang baliho di jalan.

Teman saya yang lain, juga pernah mengadakan program serupa untuk restoran sotonya pada momentum tertentu seperti 17 Agustus , yaitu makan soto bayar pakai KTP. Lantaran cara berpromosinya yang unik, teman saya ini banyak mendapat sorotan media alias jadi viral…hehe….

10. Endorser

Cara ini juga sudah cukup jamak dilakukan para pemilik brand, terutama sejak melejitnya popularitas Instagram. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan oleh para pemasar, adalah pastikan memilih influencer yang tepat dan sesuai dengan DNA brand agar lebih efektif. Jangan hanya terpaku pada jumlah pengikut atau followers, namun teliti juga engagement antara si endorser/influencer dan audiensnya.

Berbagai sumber/Marketeers

Leave a Reply

Your email address will not be published.